I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ikan nila gift berasal dari benua afrika, namun sekarang telah tersebar dan berkembang secrara alamiah di berbagai belahan dunia dan diintroduksi secara legal untuk kepentingan masing-masing negara. Ikan nila termasuk ikan yang mudah mengalami perubahan genetik ataupun fenotip. Beberapa jenis ikan nila yang tersebar dan berkembang di Afrika adalah mujahir, nila hitam, dan masih banyak lagi yang lain.
Nila gift merupakan varietas baru hasil persilangan antara beberapa varietas ikan nila yang berkembang diberbagai negara. Nila gift (genetic of farmer tilapia) dikembangkan sejak tahun 1987 oleh ICLARM (Inetrnational Centre for Living Aquatc Resource Manajemant) kerja sama dengan ADB (Asiant Development Bank) dan UNDP (United Nation Developmetnt Projejt).
Nila gift diproduksi di Indonesiasejak tahun 1990. Pada awalnya, ikan nila ini kurang populer dikalangan petani dan mayarakat yang disebabkan keterbatasan komunikasi dan informasi nial gift. Hal itu membuat penyebaran dari nila gift tersendat-sendat padahal nila gift memiliki kelebihan atau keunggulan tersendiri dibandingkan dengan ikan-ikan sejenis lainnya.
Nila gift tumbuh lebih cepat dan lebih besar dibandingkan dengan ikan nila hitam (ikan lokal). Nila gift mudah dipelihara dan dikembangbiakkan serta responsif dan effisien terhadap pemberian makanan tambahan. Ikan nila ini juga adaptif atau mudah menyesuaikan diri dengan perubahan keadaan lingkunngan dan tahun terhadap gangguan ama dan penyakit.
Nila gift dapat dipelihara dikolam, sawah, tambak dan perairan lain, sepeti sungai, danau, dan muara sungai sampai pinggiran laut yang terlindung (teluk). Ikan nila gift dapat dibudidayakan secara monokultur atau polikultur dan terpadu dengan ternak. Struktur daging nila gift mirip dengan nila merah. Daging nila gift mudah dikuliti atau difilet berbentuk lembaran (sayatan) yang tebal, lebar dan kenyl (padat). Hasil pemeriksaan laboratorium membuktikan bahwa nila gift memiliki kandungan gizi yang nyaris sempurna, yaitu 79,7% (air), 17,7% (protein) 1,3% (lemak) dan 1,3% (abu).
Nila gift sangat dinimakti konsumen sebagai sumber protein hewani nonkolesterol. Ikan ini dipasarkan secara lokal disekitar lokasi budidaya dan di ekspopr ke negara lain. Beberapa negara mengimpor ikan nila adalah Amerika Serikat, Singapura, Hongkong, Saudi Arabia, dan beberapa negara Eropa. Ikan nila dapat diekspor dalam keadaan hidup dan segar ataupun dalam bentuk sayatan daging (filet). Negara-negara eksportir nila gift adalah Indonesia, Taiwan, Filipina, Thailand dan Kostarika. Filipina dan Thailand merupakan negara yang meprioritaskan ikan nila sebagai komoditas andalan ekspor hasil perikanan.
Potensi pasar ikan nila gift, cukup prospektif. Memasuki awal milenium ini, permintaan pasar internasional ikan nila mencapai 200.000 ton/tahun. Sementara itu, hasil produksi ikan nila pada kurun waktu yang sama hanya sekitar 90.000 ton/tahun. Sedangkan kontribusi Indonesia terhadap pasar internasional ikan nila baru mencapai 856 ton/tahun.
Berdasarkan hal tersebut diatas maka dilakukan praktikum tentang jantanisasi benih ikan nila agar mahasiswa dapat mengetahui cara menghasilkan populasi ikan nila jantan melalui perendaman hormon 17 α-Metyltestosteron kepada larva ikan.
B. Tujuan dan Keguaan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menghasilkan populasi benih nila jantan ukuran 3-5 cm.
Kegunaan dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat mengetahui cara menghasilkan populasi ikan nila jantan melalui perendaman hormon 17 α-Metyltestosteron kepada larva ikan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Pemijahan merupakan kegiatan menggunakan induk ikan jantan dan betina, dengan tujuan untuk memperoleh benih ikan dalam jumlah yang banyak dan bermutu baik sehingga dapat dikembangkan menjadi ikan konsumsi dan peremajaan induk. Pemijahan harus dilakukan di kolam khusus karena sangat berpengaruh terhadap benih ikan yang dihasilkan baik mutu maupun julahnya. Perkembangbiakan nila gift tidak tergantung pada musim tetapi memijah sepanjang tahun. Pada umur 4-5 bulan ikan nila gift sudah dapat memijah dan bertelur. Dalam proses perkawinannya induk ikan nila gift jantan akan membuat lubang perkawinan setelah selesai di buat maka perkawinan akan terjadi . induk betina mengeluarkan sel telur kemudian dibuahi oleh sperma yang di keluarkan oleh induk ikan nila jantan. Dalam proses pemetasan induk nila gift betina mengerami telurnya di dalam mulut hingga telur menetes 14 hari dan suhu yang baik untuk memijah berkisar antara 20-240C dengan kedalaman 40-60 cm (Cahyono, 1994).
Perkembangan embrio pada ikan diawali dengan terjadinya pembuahan sel telur dengan spermatozoa yang terjadi secara external dan telurnya yang tidak dibuahi akan mengalami kematian. Telur yang mati warnanya berubah menjadi putih, setelah menetas embrio memasuki fase larva. Larva adalah embrio yang masih terbentuk primitif atau sedang dalam proses peralihan menjadi bentuk definitif dengan cara metamorfosis. Larfa yang baru menetas berukuran 5-6 mm larva ikan nila gift selalu berenang bergerombol (schoaling)dan bergerak berputar mirip bola menggelinding. Larva yang tumbuh dan berkembang menjadi benih masih tetap di rawat dalam mulut induk betina (Sutisno dan Sutarmanto, 1994).
Ikan nila gift (Oreohromis niloticus) memerlukan sumber energi yang berasal dari makanan untuk pertumbuhan dan mempertahankan kelangsungan hidup. Larva ikan nila gift bersifat planktonik vorous (pemakan plankton), larva yang baru menetes dibekali dengan makanan cadangan berupa kuning telur yang melekat dibawah perutnya. Larva yang telah kehilangan kuning telur berubah menjadi benih, pada fase ini benih ikan mulai menelan makanan dari luar tubuh berupa tumbuh-tumbuhan dan hewan air yang biasa disebut plankton. Plankton yang biasa dimakan antara lain algae yang bersel tunggal atau benthos dan crustacea (udang-udangan) yang berukuran kecil. Sedang makanan utama ikan nila gift yang berukuran besar adalah algae berfilamen, detritus dan tumbuh-tumbuhan air serta makanan tambahan berupa pallet atau pakan buatan (Djarijah, 2002).
Proses differensiasi seks merupakan suatu proses perkembangan gonad ikan menjadi suatu jaringan yang definitif (sudah pasti). Proses ini terjadi dari serangkaian kejadian yang memungkinakan seks genotife terekspresi menjadi seks fenotif. Proses differensiasi seks terlebih dahulu terjadi pada betina kemudian pada jantan. Pada maknan dari luar tubuh atau telah kehabisan cadangan kuning telur saat itu differensiasi seks dimulai. Proses differensiasi pada betina ditandai dengan meiosis oogonia atau perbanyakan sel-sel somatik membentuk rongga ovari sedangkan pada jantan ditandai dengan munculnya spermatogonia serta pembentukan sistem vaskular pada testes (Barlan, 1993).
Secara harviah, seks refersal diartikabn sebagai suatu teknologi yang membalikan arahkelamin menjadi berlawanan. Dengan penerapan ini ikan yang seharusnya berkelamin betina diarhkan perkembangan gonadnya menjadi jantan begitupun sebaliknya, karena pada waktu menetas gonad ikan belum terdifferensiasi secara jelas menjadi jantan atau betina. Dengan teknik sex reversal fenotip ikan akan berubah tetapi genotipnya tidak dapat berubah. Teknik ini mulai dikenal pada tahun 1973 ketika Estradiol-17β disintesis untuk pertama kalionya di Amerika Serikat. Adapun tujuan teknik sex reversal ini adalh untuk menghasilkan keturunan iakan yang berkelamin betina yang sesuai yang diinginkan atau menghasilkan populasi monosex (tunggal kelamin). Budidaya populasi monosex dilakukan untuk mendapatkan ikan dengan pertumbuhan yang cepat dimana pada beberapa jenis ikan kelamin jantan tumbuh lebih cepat dibandingkan ikan betina, mencegah pemijahan liar, mendapat penampilan yang baik serta menunjang genetika ikan yaitu pemurnian ras ikan (Zairin, 2002).
Metode sex reversal terdiri dari metode untuk memperoleh populasi monosex yaitu melalui terapi hormon (secara langsung) atupun rekayasa kromosom (cara tak langsung). Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah teknik terapi hormon langsung yakni hormon androgen dan estrogen yang dapat mempengaruhi fenotif tetapi tidak mempengaruhi genotif. Kelompok hormon tersebut digunakan untuk feminisasi dan maskulinisasi langsung. Metode langung dapat diterapkan pada semua jenis ikan apapun kromosom sexnya dan kelebihan utamanya adalah sederhana dan dapat meminimalkan kematian walaupun kelemahannya hasil yang didapat sangat beragam. Ini disebabkan karena perbandingan kelamin alamiah antara jantan dan betina tidak selalu sama (Zairin, 2002).
Hormon merupakan suatu zat kimia organik yang dihasilkan pada saat tertentu oleh sel-sel endokim dalam jumlah sedikit dan disalurkan melalui sistem vaskularis. Hormon steroid merupakan hormon yang dapat mempengaruhi kerja produksi hewan, merangsang peertumbuhan dan differensiasi kelamin serta mempengaruhi tingkah laku ikan.
Efektifitas perlakuan hormon dalam teknik sex refersal dipengaruhi oleh cara pemberian dosis, jenis hormon, saat perlakuan lama perlakuan, kondisi lingkungan dan daya tahan dalam tubuh ikan. Metode pemberian hormon terdiri dari beberapa cara yaitu pemberian hormon melalui pakan buatan dan pakan alami, namun cara ini mempunyai kelemahan dintaranya adalah memerlukan waktu yang lama dan biaya biaya yang banyak serta dosis yanmg tinggi. Selanjutnya pemberian hormon dengan cara penyintikan yaitui masih terbatas, memerlukan waktu, keahlian, alat tertentu serta tak layak pada stadia larva. Kemudian pemberian hormon denngan cara perenaman pada stadia larva yaitu saat mulai kehgilangan kuning telur, cara ini diyakini sangat efektif karena selain mudah menyiapkan hormon, sederhana dan tidak memerlukan waktu yang lama diduga juga bahwa pada stadia larva masih berada pada fase labil sehingga mudah dipengaruhi oleh rangsangan dari luar serta pada fase larva gonad belum terdiferensiasi seks, apakah jantan atau betina . Metode pemberian hormon dengan perendaman hormon akan masuk kedalam tubuh dan menuju organ tertentu seperti pada ikan jantan langsung menuju ke testes dan betina langsung menuju ke ovarium. Hormon terdiri dari dua kelompok yaitu androgrn alamiah yang merupakan testosteron dalam 11α-Metil dihidro testosteron. Hormon estrogen alamiah adalah stradiol benzoat, estradiol butiril asetat, 17α-Etinilestradiol dan estradiol prepionat (Suhendar, 1997).
Sedangkan dosis hormon berkaitan dengan efisiensi yang akan mempengaruhi nilai ekonomi. Pemberian dosis yang terlampau rendah menyebabkan proses seks reversal berlangsung kurang sempurna dan dosis yang tinggi menjadikan ikan stres. Jenis hormon yang digunakan untuk seks reversal adalah hormon androgen utnuk proses maskulinisasi yaitu menghasilkan keturunan monoseks betina (Zairin, 2002).
Hormon steroid larut dalam lemak dan dihasilkan oleh kelenjar adrenal, testes, ovari, dan plasenta. Hormon-hormon yang termasuk steroid adalah estrogen, endrogen , kortikoid dan progesteron (Djojosoebagio, 1990 dalam Barlan 1993), hormon steroid androgen berfungsi untuk maskulinisasi atau penjantanan sedangkan estrogen adalah hormon steroid yang berfungsi feminisasi.
Pemberian hormon steroid merupakan rangsangan yang normal untuk perubahan kelamin pada ikan-ikan telestoi. Androgen merupakan senyawa maskulinasi yang dihasilkan terutama oleh testis dibawah kondisi normal dan androgen juga dibuat oleh korteks anak ginjal dan ovari serta sangat mungkin terdapat dalam plasenta (Gamong, 1994).
III. METODE PRAKTEK
A. Waktu dan Tempat
Praktikum dilaksanakan pada hari Jum’at, tanggal 14 November 2008, pukul 08.00-10.30 wita, dan bertempat di BBI Abeli Sawah Kabupaten Konawe.
B. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1. Alat dan Bahan yang digunakan pada praktikum jantanisasi benih ikan nila Gift beserta kegunaannya.
No. Alat dan Bahan Kegunaan
1.
2.
Alat :
- Ember plastik
- Timbangan analitik
- Baskom
- Sendok makan
- Suntik
- Gelas ukur
- Hand sprayer
Bahan :
- Hormon 17α- Metyltestosteron
- Plastik packing
- Karet
- Alkohol 95%
- Oksigen
- Air
- Benih nila gift
mengambil air di bak
Untuk menimbang hormon 17α- Metyltestosteron
Sebagai wadah benih nila gift sebelum perendaman
Untuk pengaduk
Mengambil alkohol
Tempat melarutkan
Alat mengambil larva benih ikan nila gift
Bahan yang digunakan untuk jantanisasi benih Nila gift
Sebagai tempat untuk melakukan perendaman
Untuk mengikat plastik packing
Untuk melarutkan hormon 17α- Metyltestosteron
untuk proses pernapasan dalam kantung plastik
air sebagai bahan perendaman
bahan untuk proses jantanisasi
C. Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang dilakukan pada jantanisasi ikan nila gift melalui aplikasi perendaman adalah sebagai berikut :
1. Menimbang hormon 17α- Metyltestosteron sebanyak 5 mg dan melarutkannya dalam 2-3 ml alkohol 95% untuk 1 liter air
2. Menyiapkan wadah perendaman berupa gelas kimia ukuran 1 liter dan di isi dengan 1 liter air.
3. Melarutkan hormon hormon 17α- Metyltestosteron dengan alkohol 95% pada sendok makan.
4. Memasukannya kedalam gelas kimia yang telah berisi air dan diaduk sampai homogen.
5. Mengambil larva nila gift dari dalam baskom dengan menggunakan hand sprayer.
6. Memasukkan larva kedalam air larutan hormon 17α- Metyltestosteron dengan padat tebar 1000 ekor/liter.
7. Memindahkan larva dari gelas kimia kedalam plastik packing.
8. Menambahkan oksigen kedalam plastik packing sebanyak ¾ volume packing dan mengikatnya dengan karet.
9. Lama perendaman larva dalam larutan berhormon adalah selama 6 jam.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan yang dilakukan pada praktikum jantanisasi ikan nila gift dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2. Hasil pengamatan jantanisasi dan kelangsungan hidup dengan perendaman selama 6 jam.
No. Hasil Pengamatan Perendaman 6 Jam
1.
2.
Presentase ikan jantan
Presentase kelangsungan hidup 80 %
90 %
B. Pembahasan
Hasil dari pengamatan yang telah dilakukan bahwa jenis kelamin jantan yang dihasilkan dari perendaman dengan menggunakan hormon 17α- Metyltestosteron yaitu 80% dan untuk kelangsungan hidupnya didapatkan 90%.
Menurut Yamazaki dalam Wulan (1997) bahwa massa yang tepat dan baik untuk pemberian hormon yaitu disaaat ikan masih dalam stadia larva atau ikan saat mulai makan. Oleh karena itu yang digunakan dalam proses jantanisasi ini adalah yang berumur 2 hari setelah menetes karena diketahui bahwa stadia ini jenis kelamin belum terdifferensiasi sex yaitu belum terbentuk apakah jantan atau betina.
Sesuai dengan hasil pengamatan, Nagi, et al (1997) menyatakan bahwa terjadi peningkatan presentase jenis kelamin ikan jantan sejalan dengan peningkatan lama perendaman pada setiap perlakuan. Hal ini di duga bahwa efektifitas hormon meningkat pada saat lama waktu perendaman di tingkatkan. Hal ini di dukung oleh Nagi, et al (1997) hoemon akan bekerja aktif hanya pada selang waktu dan dosis tertentu dimana semakin lama perendaman akan makin banyak individu jantan yang akan di hasilkan dan akhirnya terhenti pada lama perendaman yang optimal tercapai.
Zairin (2002) menyatakan bahwa metode perendaman larva, yaitu hormon akan masuk kedalam tubuh ikan melalui pertukaran seperti insang, kulit dan gurat sisi serta melalui proses difusi. Selanjutnya Turner dan Bagnara (1976 dalam Mulyati, 1994). Menyatakan bahwa mekanisme masuknya hormon kedalam tubuh dengan cara perendaman adalah hormon masuk mengalir langsung oleh darah kehati selanjutnya keseluruh tubuh dan menuju organ tertentu seperti pada ikan jantan langsung menuju ke testes dan betina langsung ke ovarium. Hal ini disebabkan karena semakin lama perendaman maka akan semakin banyak hormon berdifusi ke dalam tubuh larva dan perpengaruh besar terhadap perubahan kelamin.
Hormon testosteron merupakan turunan kolesterol yang mengandung 27 atom karbon, organ yang menghasilkan antara lain adalah testis, ovari, korteks anak ginjal dan plasenta (Martin, 1979 dalam Barlan, 1993) pada mulanya hormon testosteron akan merangsang differensiasi gonad atau perubahan kelamin selanjutnya di ikuti oleh ciri-ciri luar kelamin.
Hasil pengamatan pada kelangsungan hidup menunjukan bahwa perendaman larva dalam larutan hormon testosteron digunakan di dalam plastik packing memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup. Hal ini berarti bahwa perlakuan perendaman larva yang lama akan menyebabkan tingkat kematian yang tinggi yang disebabkan oleh proses penanganan serta pengaruh dari suhu.
Selanjutnya Zairin (2002) menyatakan bahwa faktor yang sangat berpengaruh dalam metode seks reversal baik secara langsung maupun tidak langsung adalah kondisi lingkungan seperti suhu, PH, dan oksigen terlarut, dimana antara faktor tersebut yang paling berpengaruh dalam proses maskulinisasi adalah suhu dimana bekerja langsung pada metabolisme tubuh dan kerja hormon. Suhu berpengaruh terhadap lamanya sensifitas gonad terhadap stimulasi hormon.
Pada perendaman larutan hormon testosteron pada plastic packing, larva ikan nila Gift banyak yang mati atau kelangsungan hidupnya 90% dari 1000 ekor larva ini berarti bahwa terdapat sekitar 100 ekor larva yang mati. Hal ini disebabkan oleh penanganan dimana menurut Suyanto (1994) menyatakan bahwa pemindahan ikan nila Gift secara mendadak dapat mengakibatkan ikan mudah stress, serta pengaruh suhu dimana diketahui bahwa pada stadia larva tingkat mortalitas tinggi karena belum mampu beradaptasi dengan lingkungan dengan baik dan akhirnya mati.
Kemudian pendapat Nagi, et al (1997) menyatakan bahwa tingkat keberhasilan penggunaan hormon testosteron untuk mengubah arah diferensiasi kelamin ikan dipengaruhi oleh umur ikan, pemberian hormon, periode waktu, dosis dan suhu selama perlakuan.
Selanjutnya perendaman larva dalam larutan hormon testosteron setelah pemeliharaan 3 bulan dikolam juga memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup. Hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan, terutama media hidupnya selama pengukuran dipengaruhi oleh cuaca yang berbeda yaitu musim kemarau dan musim hujan dimana diketahui bahwa semakin tinggi suhu maka PH rendah dan kebutuhan akan oksigen terlarut tinggi dimana kisaran suhu selama pemeliharaan 3 bulan yaitu 25-320C.
V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini yaitu :
1. Hasil dari pengamatan yang telah dilakukan bahwa jenis kelamin jantan yang dihasilkan dari perendaman dengan menggunakan hormon 17α- Metyltestosteron yaitu 80% dan untuk kelangsungan hidupnya didapatkan 90%.
2. Masa yang tepat dan baik untuk pemberian hormon yaitu disaaat ikan masih dalam stadia larva atau ikan saat mulai makan (berumur 2-3 hari).
3. Hormon testosteron merupakan turunan kolesterol yang mengandung 27 atom karbon, dimana organ yang dihasilkan antara lain adalah testis, ovari, korteks anak ginjal dan plasenta.
4. Perendaman larva dengan menggunakan larutan hormon testosteron di dalam plastik packing memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup.
B. Saran
Saran saya selaku praktikan adalah sebaiknya dalam praktikum selanjutnya praktikan dilibatkan langsung pada proses pengamatan, jangan hanya pada saat perendaman saja agar praktikan mengetahui faktor-faktor apa yang mempengaruhi proses jantanisasi dan kelangsungan hidupnya.
Aguslin
Selasa, 13 Januari 2009
Ekonomi Kesejahteraa
EKONOMI KESEJAHTERAAN
A. Definisi teori ekonomi kesejahteraan
Teori ekonomi kesejahteraan mempelajari berbagai kondisi dimana acara penyelesaian dari model ekuilibrium umum dapat dikatakan optimal. Hal ini memrelukan antara lain alokasi optimal factor produksi diantara factor komuditi dan alokasi optimal (yaitu, distribusi pendapatan) diantara konsumen.
Alokasi dikatakan optimal pareto jika proses produksi tidak dapat diatur lagi sedemikain rupa guna menaikan output dari satu atau lebih komoditi tanpa harus mengurangi komoditi lain. Denghan demikian, dalam perekonomian dua komoditi, kurva kontrak komuditi, kurva kntrak produksi adalah tempat kedudukan alokasi factor produksi yang optimal ppareto dalam proses produksi kedua komoditi. Demikian pula, alokasi komoditi dapat dikatakan optimal pareto jika system produksi tidak dapat diatur lagi sedemikian rupa guna menambah uutilitas bagi satu atau lebih individu tanpa harus mengurangi utilitas individu lain. Dengan demikian dalam pereokonomian dua individu, kurva kontrak konsumsi adalah tempat kedudukan distribusi komoditi yang optimal pareto antara dua individu.
B. Kurva Batas Kemungkinan Utilitas
Dengan menetapkan kurva kontrak konsumsi, dari ruang output ke yruang utilitas, kita perole kurva batas kemungkinan utilitas. Kurva ini memperlihatkan berbagai nkombinasi utilitas yang di terima individu A dan B (yaitu uA dan uB) bila perekonomian sederhana dari bagian 14.1 berada dalam ekuilibrium umum pertukaran. Titik pada kurva kontrak konsumsi dimana MRSxy untuk A dan B sama dengan MRTxy menyatakan titik optimum pareto untuk produksi dan konsumsi pada kurva batas kemungkinan utilitas.
Contoh:
Jika kurva indiferen A1 dalam gambar sebelumnya mengacu pada titik 150 unit utilitas untuk individu A (yaitu, uA = 150 satuan utilitas) dan B3 mengacu pada uB = 450 satuan utilitas, kita dapat bergerak dari titik C pada kurva kontrak konsumsi (dalam ruang output) dari 14.4 ke titik C’ dari ruang utilitas dari gambar 14.5. Demikian pula jika A2 mengacu pada uA = 300 satuan utilitas dan B2 mengacu pada uB = 400 satuan utilitas, kita dapat begerak dari D dalam gambar 14.4 ke titik D’ dalam gambar 14.5. Dan jika A3 mengacu pada uA = 400 satuan utilitas sedangkan pada B1 mengacu pada uB = 150 satuan utilitas, kita dapat bergerak dari titik E dalam gambar 14.4 ke titik E’ dalam gambar 14.5. Dengan menghubungkan titik-titik C’, D’, dan E’, kita peroleh kurva batas kemingkinan utilitas FM lihat gambar berikut. Di titik D’ dalam gambar ini, perekonomian sederhgana ini secara simultan berada pada optimum pareto untuk produksi dan konsumsi.
Gambar 14.5
C. Kurva Batas Kemungkinan Utilitas Utama
Dengan menentukan titik lain pada kurva transformasi,kita dapat membuat diagram kota Edgeworth yang berada dalam kurva kontrak konsumsi. Dari ini kita dapat memperoleh kurva batas kemungkinan utilitas yang berbeda dan titik optimum pareto yang lain untuk produksi dan konsumsi. Proses ini dapat di ulang beberapa kali. Kemudian, dengan menghubungkan titik-titik optimum pareto yang dihasilkan untuk produksi dan pertukaran, kita dapat memperoleh Kurva bats kemungkinan utilit6as utama (grand utility possibility curve).
Contoh
Kurva batas kemungkinan utilitas FM’ dalam gambar 14.5 di peroleh dari kurva kontrak kosumsi yang di tarik dari titik OA ke titik M’ pada kurva transformasi dari gambar 14.4, jika kita menentukan titik lain pada kurva transformasi dari ganmbar 14.4. misalkan titik N’, kita membuat diagram kota Edgeworth yang lain dan memperoleh kurva kontrak konsumsi lain, yang di tarik dari titik OA ke titik N’ dalam gambar 14.4. dari kurva kontrak konsumsi ytang berbeda ini, kita dapoat memperooleh batas kemungkinan utilitas lain (FN’ dalam gambar 14.6) dan memperoleh titik optimum Pareto produksi dan pertukaran yang lain (titik T’ dalam gambar 14.6). kemudian dengan menghubungkan titik-titik D’, T’ dan titik lain yang diperoleh, kita dapat memperoleh kurva batas kemungkinan utulitas uatam adalah G dalam gambar 14.6. kurva kemungkinana utilitas utama adalah tempat kedudukan titik-titik optimum Pareto untuk produksi dan pertukaran. Yaitu, proses produksi distribusi tidak dapat di atur kembali sedemikian rupa guna membuat seseorang menajdi lebih lanjut sejahtera tanpa merugikan orang lain.
D. Fungsi Kesejahteraan Sosial
Satu-satunya cara yang memungkinkan untuk memutuskan mana dari antara titik optimum pareto pada kurva batas kemungkinan utilitas utama yang menunjukan kesajahteraan sosial maksimum adalah dengan menerima gagasan perbandingan utilitas antar individu. Dengan demikian, kita dapat menggambarkan fungsi kesejhahteraan soasial. Fungsi kesejahteraan sosial memperlihatkan berbagai kombinasi uA dan uB. yang memberikan tingkat kepuasaan atau klesejahteraan yang sama kepada masyarakat.
Contoh
Dalam gambar 14.7, W1, W2, dan W3 adalah fungsi kesejahteraan sosial atau kurva indiferen sosial dari peta kesejahteraan masyarakat yang bersifat padat (dense welfare map). Seluruh tidak pada kurva tertentu ,memberikan tingkat kepuasaan atau kesejahteraaan yang sama kepada masyarakat. Masyarakat lebih menyukai titik pada fungsi kesejahteraan soial yang lebih rendah. Namun demikian, perhatikanlah bahwa gerakaan sepanjang kurva kesejahteraan sosial membuat keadaan seorang individu menjadi lebih kesejahteraan dan keadaan individu lainnya menjadi lebih buruk. Dengan demikian, untuk membuat fungsi kesejahteraan sosial, masyarakat harus mengadakan pertimbangan etis atau pertimbangan nilai (perbandingan utilitas antarindividu).
E. Titik Kesejahteraan Sosial Maksimum
Kesejahteraan sosial maksimum dicapai pada titik di mana batas kemungkinan utilitas utama bersinggungan dengan kurva kesejahteraan sosial.
Contoh:
Dengan memempatkan peta kesejahteraan sosial atau peta kepuasaan sama dari Gambar 14.7 secara berimpit dengan kurva batas kemungkinan utilitas utama dari gambar 14.6, kita dapat menentukan titik kesejahteraan sosial maksimum yaitu pada titik D’ dalam gambar 14.8. dari seluruh titik optimum pareto untuk produksi dan distribusi yang tidak terbatas jumlahnya pada kurva batas kemungkinan utilitas utama, kita memilih titik yang menunjukan kesejahteraan soial maksimum. Perhatikanlah, bahwa kita sekarang menghilangkan unsure ketidakpastian (tentang besarnya X dan Y yang harus diproduksi) yang akan kita bahas pada akhir contoh 5. Yaitu, kita sekarang mengetahui bahwa, agar masyarakat dapat memaksimumkan kesejahteraan :
(1) uA harus sama dengan 300 unit satuan utilitas dengan sedangkan uB harus sama dengan 400 satuan utilitas
(2) masyarakayt harus memproduksi 12X dan 12Y
(3) individu harus menerima 7X dan 5Y sedangkan individu B sisanya sebanyak 5X dan 7Y
(4) untuk memproduksi 12X harus digunakan 8L dan 5K dan untuk memproduksi 12Y harus digunakan sisanya sebanyak 6L dan 7K. dengan demikian kita mendapatkan car penyelesaian ekuilibrium umum yang memaksimumkan kesejahteraan sosial.
F. Persaingan Sempurna dan Efesiensi Ekonomi
Kita telah melihatr bahwa, untuk mencapai optimum pareto produksi dan distribusi, tiga perangkat kondisi yang berikut harus terpenuhi secara simultan;
1. (MRTSLK)X = (MRTSLK)Y
2. (MRSXY)A = (MRSXY)¬B
3. (MRSXY)A = (MRSXY)¬B = MRTXY
Ketiga kondisi ini akan terpenuhi bila seluruh pasar dalam perekonomian bersifat persaingan sempurna.
G. Eksternalitas dan Kegagalan Pasar
Eksternalitas adalah selisih antara biaya perorangan dan biaya sosial atau antara keuntungan perorangan dan keuntungan sosial. Dalam berbagai kasus “kegagalan pasar” mengejar keuntungan perorangan tidak akan membawa pada kesejahteraan sosial maksimum, meskipun persaingan sempurna ada dalam seluruh pasar.
H. Barang-Barang Publik
Kegagalan pasar bersumber dari kerberadaan barang publik (public goods). Barang public merupakan barang yang bebas di konsumsi, yaitu pemanfaatan barnag atau jasa tersebut oleh seseorang sama sekali tidak mengurangi kesempatan bagi orang lain untuk turut menikmatinya. Sebagai contoh adalah televise. Sedangkan yang lain adalah barang public yang nonekslusif misalnya pertahanan nasional suatu negara, setiap warga negara yang membayar pajak maupun yang tidak membayar pajak, bisa menikmatinya dengan bebas.
Contoh
Pada gambar di bawah ini dA dan dB masing-masing adalah kurva permintaan permintaan terhadap barang publik X oleh individu A dan individu B. jika A dan B hanya merupakan individu-individu dipasar, maka kurva permintaan agregat barang public X, di nyatakan dengan DT, yang di peroleh dengan menjumlahkan dA dan dB secara vertical. Alasannya adalah bahwa setiap unti barang dapat di konsumsi oleh kedua individu itu dalam waktu bersamaan. Bila penawaran pasar untuk barang public X adalah Sx, maka jumlah optimal X adalah 4 unit per periode waktu (ditunjukan oleh perpotongan waktu DT dan Sx di titik E). Pada titik E, jumlah manfaat marjinal yang dinikmati individu sama dengan biaya marjinal dalam memproduksi 4 unit barang public tersebut (yakni, AB + BC = AE).
A. Definisi teori ekonomi kesejahteraan
Teori ekonomi kesejahteraan mempelajari berbagai kondisi dimana acara penyelesaian dari model ekuilibrium umum dapat dikatakan optimal. Hal ini memrelukan antara lain alokasi optimal factor produksi diantara factor komuditi dan alokasi optimal (yaitu, distribusi pendapatan) diantara konsumen.
Alokasi dikatakan optimal pareto jika proses produksi tidak dapat diatur lagi sedemikain rupa guna menaikan output dari satu atau lebih komoditi tanpa harus mengurangi komoditi lain. Denghan demikian, dalam perekonomian dua komoditi, kurva kontrak komuditi, kurva kntrak produksi adalah tempat kedudukan alokasi factor produksi yang optimal ppareto dalam proses produksi kedua komoditi. Demikian pula, alokasi komoditi dapat dikatakan optimal pareto jika system produksi tidak dapat diatur lagi sedemikian rupa guna menambah uutilitas bagi satu atau lebih individu tanpa harus mengurangi utilitas individu lain. Dengan demikian dalam pereokonomian dua individu, kurva kontrak konsumsi adalah tempat kedudukan distribusi komoditi yang optimal pareto antara dua individu.
B. Kurva Batas Kemungkinan Utilitas
Dengan menetapkan kurva kontrak konsumsi, dari ruang output ke yruang utilitas, kita perole kurva batas kemungkinan utilitas. Kurva ini memperlihatkan berbagai nkombinasi utilitas yang di terima individu A dan B (yaitu uA dan uB) bila perekonomian sederhana dari bagian 14.1 berada dalam ekuilibrium umum pertukaran. Titik pada kurva kontrak konsumsi dimana MRSxy untuk A dan B sama dengan MRTxy menyatakan titik optimum pareto untuk produksi dan konsumsi pada kurva batas kemungkinan utilitas.
Contoh:
Jika kurva indiferen A1 dalam gambar sebelumnya mengacu pada titik 150 unit utilitas untuk individu A (yaitu, uA = 150 satuan utilitas) dan B3 mengacu pada uB = 450 satuan utilitas, kita dapat bergerak dari titik C pada kurva kontrak konsumsi (dalam ruang output) dari 14.4 ke titik C’ dari ruang utilitas dari gambar 14.5. Demikian pula jika A2 mengacu pada uA = 300 satuan utilitas dan B2 mengacu pada uB = 400 satuan utilitas, kita dapat begerak dari D dalam gambar 14.4 ke titik D’ dalam gambar 14.5. Dan jika A3 mengacu pada uA = 400 satuan utilitas sedangkan pada B1 mengacu pada uB = 150 satuan utilitas, kita dapat bergerak dari titik E dalam gambar 14.4 ke titik E’ dalam gambar 14.5. Dengan menghubungkan titik-titik C’, D’, dan E’, kita peroleh kurva batas kemingkinan utilitas FM lihat gambar berikut. Di titik D’ dalam gambar ini, perekonomian sederhgana ini secara simultan berada pada optimum pareto untuk produksi dan konsumsi.
Gambar 14.5
C. Kurva Batas Kemungkinan Utilitas Utama
Dengan menentukan titik lain pada kurva transformasi,kita dapat membuat diagram kota Edgeworth yang berada dalam kurva kontrak konsumsi. Dari ini kita dapat memperoleh kurva batas kemungkinan utilitas yang berbeda dan titik optimum pareto yang lain untuk produksi dan konsumsi. Proses ini dapat di ulang beberapa kali. Kemudian, dengan menghubungkan titik-titik optimum pareto yang dihasilkan untuk produksi dan pertukaran, kita dapat memperoleh Kurva bats kemungkinan utilit6as utama (grand utility possibility curve).
Contoh
Kurva batas kemungkinan utilitas FM’ dalam gambar 14.5 di peroleh dari kurva kontrak kosumsi yang di tarik dari titik OA ke titik M’ pada kurva transformasi dari gambar 14.4, jika kita menentukan titik lain pada kurva transformasi dari ganmbar 14.4. misalkan titik N’, kita membuat diagram kota Edgeworth yang lain dan memperoleh kurva kontrak konsumsi lain, yang di tarik dari titik OA ke titik N’ dalam gambar 14.4. dari kurva kontrak konsumsi ytang berbeda ini, kita dapoat memperooleh batas kemungkinan utilitas lain (FN’ dalam gambar 14.6) dan memperoleh titik optimum Pareto produksi dan pertukaran yang lain (titik T’ dalam gambar 14.6). kemudian dengan menghubungkan titik-titik D’, T’ dan titik lain yang diperoleh, kita dapat memperoleh kurva batas kemungkinan utulitas uatam adalah G dalam gambar 14.6. kurva kemungkinana utilitas utama adalah tempat kedudukan titik-titik optimum Pareto untuk produksi dan pertukaran. Yaitu, proses produksi distribusi tidak dapat di atur kembali sedemikian rupa guna membuat seseorang menajdi lebih lanjut sejahtera tanpa merugikan orang lain.
D. Fungsi Kesejahteraan Sosial
Satu-satunya cara yang memungkinkan untuk memutuskan mana dari antara titik optimum pareto pada kurva batas kemungkinan utilitas utama yang menunjukan kesajahteraan sosial maksimum adalah dengan menerima gagasan perbandingan utilitas antar individu. Dengan demikian, kita dapat menggambarkan fungsi kesejhahteraan soasial. Fungsi kesejahteraan sosial memperlihatkan berbagai kombinasi uA dan uB. yang memberikan tingkat kepuasaan atau klesejahteraan yang sama kepada masyarakat.
Contoh
Dalam gambar 14.7, W1, W2, dan W3 adalah fungsi kesejahteraan sosial atau kurva indiferen sosial dari peta kesejahteraan masyarakat yang bersifat padat (dense welfare map). Seluruh tidak pada kurva tertentu ,memberikan tingkat kepuasaan atau kesejahteraaan yang sama kepada masyarakat. Masyarakat lebih menyukai titik pada fungsi kesejahteraan soial yang lebih rendah. Namun demikian, perhatikanlah bahwa gerakaan sepanjang kurva kesejahteraan sosial membuat keadaan seorang individu menjadi lebih kesejahteraan dan keadaan individu lainnya menjadi lebih buruk. Dengan demikian, untuk membuat fungsi kesejahteraan sosial, masyarakat harus mengadakan pertimbangan etis atau pertimbangan nilai (perbandingan utilitas antarindividu).
E. Titik Kesejahteraan Sosial Maksimum
Kesejahteraan sosial maksimum dicapai pada titik di mana batas kemungkinan utilitas utama bersinggungan dengan kurva kesejahteraan sosial.
Contoh:
Dengan memempatkan peta kesejahteraan sosial atau peta kepuasaan sama dari Gambar 14.7 secara berimpit dengan kurva batas kemungkinan utilitas utama dari gambar 14.6, kita dapat menentukan titik kesejahteraan sosial maksimum yaitu pada titik D’ dalam gambar 14.8. dari seluruh titik optimum pareto untuk produksi dan distribusi yang tidak terbatas jumlahnya pada kurva batas kemungkinan utilitas utama, kita memilih titik yang menunjukan kesejahteraan soial maksimum. Perhatikanlah, bahwa kita sekarang menghilangkan unsure ketidakpastian (tentang besarnya X dan Y yang harus diproduksi) yang akan kita bahas pada akhir contoh 5. Yaitu, kita sekarang mengetahui bahwa, agar masyarakat dapat memaksimumkan kesejahteraan :
(1) uA harus sama dengan 300 unit satuan utilitas dengan sedangkan uB harus sama dengan 400 satuan utilitas
(2) masyarakayt harus memproduksi 12X dan 12Y
(3) individu harus menerima 7X dan 5Y sedangkan individu B sisanya sebanyak 5X dan 7Y
(4) untuk memproduksi 12X harus digunakan 8L dan 5K dan untuk memproduksi 12Y harus digunakan sisanya sebanyak 6L dan 7K. dengan demikian kita mendapatkan car penyelesaian ekuilibrium umum yang memaksimumkan kesejahteraan sosial.
F. Persaingan Sempurna dan Efesiensi Ekonomi
Kita telah melihatr bahwa, untuk mencapai optimum pareto produksi dan distribusi, tiga perangkat kondisi yang berikut harus terpenuhi secara simultan;
1. (MRTSLK)X = (MRTSLK)Y
2. (MRSXY)A = (MRSXY)¬B
3. (MRSXY)A = (MRSXY)¬B = MRTXY
Ketiga kondisi ini akan terpenuhi bila seluruh pasar dalam perekonomian bersifat persaingan sempurna.
G. Eksternalitas dan Kegagalan Pasar
Eksternalitas adalah selisih antara biaya perorangan dan biaya sosial atau antara keuntungan perorangan dan keuntungan sosial. Dalam berbagai kasus “kegagalan pasar” mengejar keuntungan perorangan tidak akan membawa pada kesejahteraan sosial maksimum, meskipun persaingan sempurna ada dalam seluruh pasar.
H. Barang-Barang Publik
Kegagalan pasar bersumber dari kerberadaan barang publik (public goods). Barang public merupakan barang yang bebas di konsumsi, yaitu pemanfaatan barnag atau jasa tersebut oleh seseorang sama sekali tidak mengurangi kesempatan bagi orang lain untuk turut menikmatinya. Sebagai contoh adalah televise. Sedangkan yang lain adalah barang public yang nonekslusif misalnya pertahanan nasional suatu negara, setiap warga negara yang membayar pajak maupun yang tidak membayar pajak, bisa menikmatinya dengan bebas.
Contoh
Pada gambar di bawah ini dA dan dB masing-masing adalah kurva permintaan permintaan terhadap barang publik X oleh individu A dan individu B. jika A dan B hanya merupakan individu-individu dipasar, maka kurva permintaan agregat barang public X, di nyatakan dengan DT, yang di peroleh dengan menjumlahkan dA dan dB secara vertical. Alasannya adalah bahwa setiap unti barang dapat di konsumsi oleh kedua individu itu dalam waktu bersamaan. Bila penawaran pasar untuk barang public X adalah Sx, maka jumlah optimal X adalah 4 unit per periode waktu (ditunjukan oleh perpotongan waktu DT dan Sx di titik E). Pada titik E, jumlah manfaat marjinal yang dinikmati individu sama dengan biaya marjinal dalam memproduksi 4 unit barang public tersebut (yakni, AB + BC = AE).
Penyebab Aids
PENYEBAB AIDS
Penyebab timbulnya penyakit AIDS belum dapat dijelaskan sepenuhnya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa virus HIVtelah ada di dalam tubuh sebelum munculnya penyakit AIDS ini. Namun kenyataan bahwa tidak semua orang yang terinfeksi virus HIV ini terjangkit penyakit AIDS menunjukkan bahwa ada faktor-faktor lain yang berperan di sini. Penggunaan alkohol dan obat bius, kurang gizi, tingkat stress yang tinggi dan adanya penyakit lain terutama penyakit yang ditularkan lewat alat kelamin merupakan faktor-faktor yang mungkin berperan. Faktor yang lain adalah waktu. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kesempatan untuk terkena AIDS meningkat, bukannya menurun dikarenakan faktor waktu.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa HIV secara terus menerus memperlemah sistem kekebalan tubuh dengan cara menyerang dan menghancurkan kelompok-kelompok sel-sel darah putih tertentu yaitu sel T-helper. Normalnya sel T-helper ini (juga disebut sel T4) memainkan suatu peranan penting pada pencegahan infeksi. Ketika terjadi infeksi, sel-sel ini akan berkembang dengan cepat, memberi tanda pada bagian sistem kekebalan tubuh yang lain bahwa telah terjadi infeksi. Hasilnya, tubuh memproduksi antibodi yang menyerang dan menghancurkan bakteri-bakteri dan virus-virus yang berbahaya.
Selain mengerahkan sistem kekebalan tubuh untuk memerangi infeksi, sel T-helper juga memberi tanda bagi sekelompok sel-sel darah putih lainnya yang disebut sel T-suppressor atau T8, ketika tiba saatnya bagi sistem kekebalan tubuh untuk menghentikan serangannya.
Biasanya kita memiliki lebih banyak sel-sel T-helper dalam darah daripada sel-sel T-suppressor, dan ketika sistem kekebalan sedang bekerja dengan baik, perbandingannya kira-kira dua banding satu. Jika orang menderita penyakit AIDS, perbandingan ini kebalikannya, yaitu sel-sel T-suppressor melebihi jumlah sel-sel T-helper. Akibatnya, penderita AIDS tidak hanya mempunyai lebih sedikit sel-sel penolong yaitu sel T-helper untuk mencegah infeksi, tetapi juga terdapat sel-sel penyerang yang menyerbu sel-sel penolong yang sedang bekerja.
Selain mengetahui bahwa virus HIV membunuh sel-sel T-helper, kita juga perlu tahu bahwa tidak seperti virus-virus yang lain, virus HIV ini mengubah struktur sel yang diserangnya. Virus ini menyerang dengan cara menggabungkan kode genetiknya dengan bahan genetik sel yang menularinya. Hasilnya, sel yang ditulari berubah menjadi pabrik pengasil virus HIV yang dilepaskan ke dalam aliran darah dan dapat menulari sel-sel T-helper yang lain. Proses ini akan terjadi berulang-ulang.
Virus yang bekerja seperti ini disebut retrovirus. Yang membuat virus ini lebih sulit ditangani daripada virus lain adalah karena virus ini menjadi bagian dari struktur genetik sel yang ditulari, dan tidak ada cara untuk melepaskan diri dari virus ini. Ini berarti bahwa orang yang terinfeksi virus ini mungkin terinfeksi seumur hidupnya. Selain itu dapat berarti bahwa orang yang mengidap HIV dapat menulari sepanjang hidup.
Cara virus ini merusak fungsi sistem kekebalan tubuh belum dapat diungkapkan sepenuhnya. Teori yang terbaru namun belum dapat dibuktikan kebenarannya menyatakan bahwa rusaknya sistem kekebalan yang terjadi pada pengidap AIDS mungkin dikarenakan tubuh menganggap sel-sel T-helpernya yang terinfeksi sebagai “musuh”. Jika demikian kasusnya, lalu apa yang akan dilakukan oleh mekanisme pertahanan tubuh yaitu mulai memproduksi antibodi untuk mencoba menyerang sel-sel T yang telah terinfeksi. Akan tetapi antibodi juga akan diproduksi untuk menyerang sel T-helper yang tidak terinfeksi, mungkin juga merusak atau membuat sel-sel ini tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Jika demikian, HIV akan menyerang sistem kekebalan tubuh tidak hanya dengan membunuh sel-T tetapi dengan mengelabuhi tubuh dengan membiarkan tubuh sendiri yang menyerang mekanisme pertahanannya.
HIV tidak hanya menyerang sistem kekebalan tubuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa virus ini juga merusask otak dan sistem saraf pusat. Otopsi yang dilakukan pada otak pengidap AIDS yang telah meniggal mengungkapkan bahwa virus ini juga menyebabkan hilangnya banyak sekali jaringan otak. Pada waktu yang bersamaan, peneliti lain telah berusaha untuk mengisolasi HIV dengan cairan cerebrospinal dari orang yang tidak menunjukkan gejala-gejala terjangkit AIDS. Penemuan ini benar-benar membuat risau. Sementara para peneliti masih berpikir bahwa HIV hanya menyerang sistem kekebalan, semua orang yang terinfeksi virus ini tetapi tidak menunjukkan gejala terjangkit AIDS atau penyakit yang berhubungan dengan HIV dapat dianggap bisa terbebas dari kerusakan jaringan otak. Saat ini hal yang cukup mengerikan adalah bahwa mereka yang telah terinfeksi virus HIV pada akhirnya mungkin menderita kerusakan otak dan sistem saraf pusat.
PENYEBAB HEPATITIS B
Hepatitis B adalah penyakit infeksi pada hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Jika infeksi hepatitis B sudah kronik atau jangka panjang dapat mengakibatkan kerusakan hati yang parah, seperti pengerasan hati (sirosis) dan kanker hati (karsinoma hepatoseluler) yang mengakibatkan kematian.
Virus hepatitis B (VHB) menyerang tanpa pandang bulu, baik pada anak-anak ataupun orang dewasa. Infeksi tersembunyi dari penyakit ini membuat sebagian besar orang merasa sehat dan tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi dan berpotensi untuk menularkan virus kepada orang lain.
Fakta menunjukkan bahwa hepatitis B adalah penyebab kematian nomor 10 di dunia. Saat ini, di dunia diperkirakan sebanyak 2 miliar orang terinfeksi VHB, dan 350 juta orang berlanjut menjadi pasien dengan infeksi hepatitis B kronik.
Di Indonesia, berdasarkan studi yang dilakukan Mohamed J Gastroenterol Hepatol (2004), angka kejadian infeksi hepatitis B kronik mencapai 5 sampai 10% dari total penduduk. Di Australia tercatat 0,1%, Tiongkok 9,7%, Hong Kong 8,8%, dan India sebesar 3,34%.
“Dari tahun ke tahun, jumlah penderita hepatitis B di Indonesia terus meningkat,” ujar dr Unggul Budihusodo SpPD KGEH, ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) di Jakarta, kemarin.
Unggul mengungkapkan, masalah penyakit hepatitis B tidak hanya menjadi tanggung jawab institusi kesehatan saja, namun harus pula melibatkan semua elemen masyarakat guna memberikan edukasi dan informasi mengenai bahaya hepatitis B.
Terkait dengan hal itu, PPHI akan menggelar kampanye awam tentang hepatitis B berlangsung Juli–Agustus 2008, dengan Jakarta sebagai percontohan awal.
Kampanye bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta sebagai proyek percontohan, terhadap hepatitis B, terutama bagi mereka yang termasuk kelompok berisiko tinggi. Selain itu, kampanye bertujuan untuk menyediakan informasi mengenai hepatitis B, mulai dari pencegahan, diagnosis, sampai penatalaksanaan.
Memperingati Hari Hepatitis Sedunia yang berlangsung setiap 19 Mei, Kelompok Kerja Hepatitis yang diketuai Prof Ali Sulaiman, pada 9 Juni 2008 lalu menggelar lokakarya mengenai virus hepatitis.
Sumber virus hepatitis B berasal dari darah atau cairan tubuh yang menyebar melalui kulit. Virus hepatitis B merupakan anggota kepadnaviridae yang menginfeksi sel hati 100 kali lebih infeksius dari human immunodeficiency virus (HIV), sekaligus menjadi penyebab utama timbulnya kanker hati.
Gejala klinis yang biasa terdapat pada mereka yang terinfeksi virus hepatitis B berupa kelelahan, penurunan nafsu makan, demam, diare, perubahan warna urin, serta feses. Gejala lebih banyak ditemukan pada orang dewasa ketimbang pada anak-anak.
Penyebaran virus hepatitis B melalui transmisi perinatal terjadi antara ibu pada bayi, dimana 90% bayi yang terinfeksi akan menjadi kronik. Sedangkan transmisi horisontal, yaitu antara anak ke anak, jarum yang terkontaminasi, kontak seksual, tenaga kesehatan, atau tranfusi darah.
“Sebesar 6% orang yang terinfeksi hepatitis B sekitar usia 5 tahun akan menjadi kronik,” ungkap Unggul Budihusodo yang juga menjabat ketua Subdivisi Hepatologi Departemen Penyakit Dalam RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.
Sebesar 15% hingga 40% dari seluruh penderita hepatitis B kronik, akan mengalami perburukan penyakit. Perkembangan penyakit dipicu dari faktor-faktor, seperti muatan virus, gender, umur saat infeksi, status imun penjamu, mutasi virus, status hepatitis B e antigen (HBeAG), alkohol, serta ko-infeksi HCV atau HIV.
Diagnosa hepatitis B kronik harus didukung oleh data klinis dan laboratorium, meliputi HBV deoxyribonucleic acid (HBV DNA) terdeteksi dalam serum, kenaikan enzim hati, adanya bukti histologis atau hasil USG yang menunjukkan proses inflamasi hati atau sirosis.
Sekitar 53% kejadian kanker hati berhubungan dengan hepatitis B, dimana kanker hati adalah salah satu kanker penyebab kematian nomor 3 di dunia. Penderita hepatitis B memiliki lebih dari 25 kali peningkatan risiko untuk menderita kanker hati daripada mereka yang tidak terinfeksi.
Risiko kanker hati akan meningkat seiring dengan peningkatan HBV DNA dalam serum. Virus hepatitis B merangsang timbulnya kanker hati melalui penyatuan DNA virus ke sel hait penderita, pembentukan protein virus HBx, serta meningkatkan kecepatan replika sel hati.(izn)
Salah satu penyebabnya adalah virus hepatitis B. Penyakit ini tergolong sebagai penyakit infeksi yang perlu penanganan serius karena dapat berakibat fatal bahkan kematian.
Yang beresiko tinggi diserang penyakit hepatitis B :
Orang yang sering berhubungan sexual dengan berganti-ganti pasangan
Orang yang sering menggunakan jarum suntik secara bergantian atau bersama sama dengan orang lain.
Pekerja dibidang kesehatan yang mungkin terpapar oleh darah yang terinfeksi atau terluka akibat tusukan jarum yang tidak disengaja.
Orang yang menerima tranfusi darah yang telah tercemar virus hepatitis B. Tetapi kemungkinan itu sangat kecil karena rumah sakit telah melakukan pemeriksaan darah transfusi untuk mengetahui kemungkinan adanya virus hepatitis B. Bila darah tersebut telah terinfeksi maka tidak akan digunakan.
Setelah terinfeksi dengan hepatitis B, infeksi yang timbul tidak tentu ; anda mungkin terinfeksi atau tidak. Mungkin saja gejala-gejalanya akan muncul dan sembuh, atau bahkan mungkin tanpa gejala tetapi nanti akan timbul gejala yang mengganggu fungsi hati anda.
Dalam beberapa kasus, penyakit ini bisa menyebabkan anda berada dalam tahap penularan untuk jangka waktu lama. Jika hal ini sampai terjadi maka hepatitis B akan mengganggu anda selama hayat, baik kesehatan anda maupun orang-orang disekitar anda. Dan bahkan jika anda tidak terinfeksi setelah terpapar dengan benda-benda yang bisa menularkan hepatitis, anda masih berisiko tinggi untuk menderita penyakit ini.
Virus Poten
Sejauh ini virus hepatitis B lebih menular daripada AIDS. Risiko terbesar hepatitis B ditularkan melalui jarum suntik (risikonya 30 x lebih besar) dan dapat bertahan hidup diluar tubuh manusia. Virus AIDS dan hepatitis B dapat ditemukan di dalam darah, namun virus hepatitis B lebih terkonsentrasi dalam darah daripada AIDS.
Penularan
Hepatitis B menular melalui darah atau cairan tubuh lainnya yang mengandung darah. Di rumah sakit, penyakit ini bisa ditularkan lewat jarum suntik atau alat lainnya, melalui luka yang terbuka atau luka lecet di kulit, atau tumpahan cairan tubuh lainnya ke kulit.
Infeksi dengan Gejala
Gejala ynag ditimbulkan sangat bervariasi seperti influensa (demam, otot dan sendi terasa ngilu, menurunnya napsu makan, merasa lelah) dan muntah dalam waktu yang cukup lama, kadang disertai warna kekuningan pada kulit dan retina. Gejala-gejala itu bisa timbul dalam waktu beberapa minggu hingga bulan sejak anda terpapar benda yang menular. Dan yang perlu diperhatikan, penyakit ini bisa sangat menular sebelum gejala-gejalanya timbul.
Infeksi tanpa Gejala
Banyak orang yang terinfeksi hepatitis B namun tidak menampakan satu gejalapun, mereka bisa menularkan penyakit ini kepada orang lain. Mereka juga bisa mengalami masalah kesehatan seperti sirosis atau kanker hati, bahkan gagal fungsi hati.
Vaksin : Penumbuh Kekebalan
Vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau "liar". Berasal dari kata vaccinia, penyebab infeksi cacar sapi yang ketika diberikan kepada manusia, akan menimbulkan pengaruh kekebalan terhadap cacar.
Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit. Vaksin dapat juga berupa organisme mati atau hasil-hasil pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus, dsb.).
Imunisasi yang Menumbuhkan Kekebalan
Pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu disebut Vaksinasi. Disebut juga Imunisasi karena vaksin akan mempersiapkan sistem kekebalan manusia atau hewan untuk bertahan terhadap serangan patogen tertentu, terutama bakteri, virus, atau toksin. Sistem kekebalan mengenali partikel vaksin sebagai agen asing, menghancurkannya, dan "mengingat"-nya. Ketika di kemudian hari agen yang virulen menginfeksi tubuh, sistem kekebalan telah siap:
1. Menetralkan bahannya sebelum bisa memasuki sel; dan
2. Mengenali dan menghancurkan sel yang telah terinfeksi sebelum agen ini dapat berbiak.
Imunisasi dibedakan dalam dua jenis, imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Pada imunisasi aktif, tubuh ikut berperan dalam membentuk kekebalan (imunitas). Tubuh seseorang dirangsang untuk membangun pertahanan imunologis terhadap kontak alamiah dengan berbagai penyakit. Sedangkan dalam imunisasi pasif, tubuh tidak dengan sendirinya membentuk kekebalan, tetapi diberikan dalam bentuk antibodi dari luar.
Seseorang yang mempunyai risiko terjangkit penyakit tertentu, diberi antibodi yang spesifik. Umumnya bayi dan anak diberi imunisasi aktif karena imunisasi jenis ini memberi kekebalan yang lebih lama. Sedangkan imunisasi pasif hanya diberikan dalam keadaan sangat mendesak, yakni jika tubuh anak diduga belum mempunyai kekebalan ketika terinfeksi oleh kuman penyakit ganas, seperti tetanus.
Tapi tak jarang pula imunisasi aktif dan pasif diberikan dalam waktu bersamaan. Misalnya, seorang anak yang terserang penyakit tertentu akan memperoleh imunisasi pasif untuk segera menetralisir racun kuman yang beredar. Sedangkan imunisasi aktif diberikan juga untuk mendapatkan kekebalan setelah sembuh dari penyakit tersebut.
Kedua jenis imunisasi tersebut juga berbeda dalam segi bahan bakunya. Dalam imunisasi aktif, tubuh diberi sebagian atau seluruh komponen kuman atau suatu bentuk rekayasa kuman sehingga terjadi rangsangan kekebalan tubuh (imunologik) yang menyerupai respon terhadap infeksi alamiah oleh kuman itu. Sedangkan respon dalam tubuh itu sendiri bisa berupa terbentuknya antitoksin (zat anti terhadap racun yang dibuat oleh mikroorganisme) atau bentuk lain yang efeknya menetralisir kuman. Sementara dalam imunisasi pasif, tubuh diberi antibodi spesifik (sudah siap pakai) yang dapat habis dalam tubuhnya.
Beberapa imunisasi dapat membentuk kekebalan tubuh seumur hidup, seperti campak. Namun ada pula bentuk imunisasi yang memberikan kekebalan tubuh dalam jangka waktu tertentu. Misalnya saja, DPT (difteri, pertusis, tetanus) dan polio.
Efektivitas suatu imunisasi aktif dapat diukur dengan memeriksa adanya proteksi terhadap suatu penyakit yang dituju. Pemeriksaan imunoglobin sering dipakai untuk pembuktian terjadinya proteksi terhadap penyakit tertentu. Tetapi bukan merupakan jaminan mutlak, karena pada keadaan tertentu kadar imunoglobin tidak dapat digunakan sebagai patokan terjadinya proteksi.
Pada dasarnya ada vaksin yang dibuat dari kuman yang dilemahkan atau dimatikan. Kuman yang dimatikan ini tidak dapat berkembang biak (replikasi) dalam tubuh manusia, sehingga untuk merangsang pembentukan antibodi diperlukan dalam jumlah banyak. Selain itu, secara berkala dibutuhkan juga pemberian vaksin ulangan untuk memperkuat antibodi.
Jenis-Jenis Imunisasi
Biasanya imunisasi bisa diberikan dengan cara disuntikkan maupun diteteskan pada mulut anak balita (bawah lima tahun). Berikut ini adalah Jenis-jenis imunisasi pada balita :
a. Imunisasi BCG
Vaksinasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). BCG diberikan 1 kali sebelum anak berumur 2 bulan. Vaksin ini mengandung bakteri Bacillus Calmette-Guerrin hidup yang dilemahkan, sebanyak 50.000-1.000.000 partikel/dosis. Imunisasi BCG dilakukan sekali pada bayi usia 0-11 bulan, lalu DPT diberikan tiga kali pada bayi usia 2-11 bulan dengan interval minimal empat minggu. Imunisasi polio diberikan empat kali pada bayi 0-11 bulan dengan interval minimal empat minggu. Sedangkan campak diberikan satu kali pada bayi usai 9-11 bulan. Terakhir, imunisasi hepatitis B harus diberikan tiga kali pada bayi usia 1-11 bulan, dengan interval minimal empat minggu.
b. Imunisasi DPT
Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Pertusis (batuk rejan) adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak. Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang
c. Imunisasi DT
Imunisasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasilkan oleh kuman penyebab difteri dan tetanus. Vaksin DT dibuat untuk keperluan khusus, misalnya pada anak yang tidak boleh atau tidak perlu menerima imunisasi pertusis, tetapi masih perlu menerima imunisasi difteri dan tetanus. Setiap orang dewasa harus mendapat vaksinasi lengkap tiga dosis seri primer dari difteri dan toksoid tetanus, dengan dua dosis diberikan paling tidak berjarak empat minggu, dan dosis ketiga diberikan enam hingga 12 bulan setelah dosis kedua. Jika orang dewasa belum pernah mendapat imunisasi tetanus dan difteri maka diberikan seri primer diikuti dosis penguat setiap 10 tahun.
d. Imunisasi TT
Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus. Jenis imunisasi ini minimal dilakukan lima kali seumur hidup untuk mendapatkan kekebalan penuh. Imunisasi TT yang pertama bisa dilakukan kapan saja, misalnya sewaktu remaja. Lalu TT2 dilakukan sebulan setelah TT1 (dengan perlindungan tiga tahun). Tahap berikutnya adalah TT3, dilakukan enam bulan setelah TT2 (perlindungan enam tahun), kemudian TT4 diberikan satu tahun setelah TT3 (perlindungan 10 tahun), dan TT5 diberikan setahun setelah TT4 (perlindungan 25 tahun).
e. Imunisasi Campak
Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak (tampek). Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis pada saat anak berumur 9 bulan atau lebih.
f. Imunisasi MMR
Imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak, gondongan dan campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali. Campak menyebabkan demam, ruam kulit, batuk, hidung meler dan mata berair. Campak juga menyebabkan infeksi telinga dan pneumonia. Campak juga bisa menyebabkan masalah yang lebih serius, seperti pembengkakan otak dan bahkan kematian. Gondongan menyebabkan demam, sakit kepala dan pembengkakan pada salah satu maupun kedua kelenjar liur utama yang disertai nyeri. Gondongan bisa menyebabkan meningitis (infeksi pada selaput otak dan korda spinalis) dan pembengkakan otak. Kadang gondongan juga menyebabkan pembengkakan pada buah zakar sehingga terjadi kemandulan. Campak Jerman (rubella) menyebabkan demam ringan, ruam kulit dan pembengkakan kelenjar getah bening leher. Rubella juga bisa menyebabkan pembengkakan otak atau gangguan perdarahan.
g. Imunisasi Hib
Imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh Haemophilus influenza tipe b. Organisme ini bisa menyebabkan meningitis, pneumonia dan infeksi tenggorokan berat yang bisa menyebabkan anak tersedak. Sampai saat ini, imunisasi HiB belum tergolong imunisasi wajib, mengingat harganya yang cukup mahal. Tetapi dari segi manfaat, imunisasi ini cukup penting. Hemophilus influenzae merupakan penyebab terjadinya radang selaput otak (meningitis), terutama pada bayi dan anak usia muda. Penyakit ini sangat berbahaya karena seringkali meninggalkan gejala sisa yang cukup serius. Misalnya kelumpuhan. Ada 2 jenis vaksin yang beredar di Indonesia, yaitu Act Hib dan Pedvax.
h. Imunisasi Varisella
Imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air. Cacar air ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan, kemudian secara perlahan mengering dan membentuk keropeng yang akan mengelupas.
i. Imunisasi HBV
Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B. Hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian. Karena itu imunisasi hepatitis B termasuk yang wajib diberikan. Jadwal pemberian imunisasi ini sangat fleksibel, tergantung kesepakatan dokter dan orangtua. Bayi yang baru lahir pun bisa memperolehnya. Imunisasi ini pun biasanya diulang sesuai petunjuk dokter. Orang dewasa yang berisiko tinggi terinfeksi hepatitis B adalah individu yang dalam pekerjaannya kerap terpapar darah atau produk darah, klien dan staf dari institusi pendidikan orang cacat, pasien hemodialisis (cuci darah), orang yang berencana pergi atau tinggal di suatu tempat di mana infeksi hepatitis B sering dijumpai, pengguna obat suntik, homoseksual/biseksual aktif, heteroseksual aktif dengan pasangan berganti-ganti atau baru terkena penyakit menular seksual, fasilitas penampungan korban narkoba, imigran atau pengungsi di mana endemisitas daerah asal sangat tinggi/lumayan. Berikan tiga dosis dengan jadwal 0, 1, dan 6 bulan. Bila setelah imunisasi terdapat respon yang baik maka tidak perlu dilakukan pemberian imunisasi penguat (booster).
j. Imunisasi Pneumokokus Konjugata
Imunisasi pneumokokus konjugata melindungi anak terhadap sejenis bakteri yang sering menyebabkan infeksi telinga. Bakteri ini juga dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius, seperti meningitis dan bakteremia (infeksi darah).
k. Tipa
Imunisasi tipa diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap demam tifoid (tifus atau paratifus). Kekebalan yang didapat bisa bertahan selama 3 sampai 5 tahun. Oleh karena itu perlu diulang kembali. Imunisasi ini dapat diberikan dalam 2 jenis: imunisasi oral berupa kapsul yang diberikan selang sehari selama 3 kali. Biasanya untuk anak yang sudah dapat menelan kapsul. Sedangkan bentuk suntikan diberikan satu kali. Pada imunisasi ini tidak terdapat efek samping.
l. Hepatitis A
Penyakit ini sebenarnya tidak berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya. Tetapi bila terkena penyakit ini penyembuhannya memerlukan waktu yang lama, yaitu sekitar 1 sampai 2 bulan. Jadwal pemberian yang dianjurkan tak berbeda dengan imunisasi hepatitis B. Vaksin hepatitis A diberikan dua dosis dengan jarak enam hingga 12 bulan pada orang yang berisiko terinfeksi virus ini, seperti penyaji makanan (food handlers), mereka yang sering melakukan perjalanan atau bekerja di suatu negara yang mempunyai prevalensi tinggi hepatitis A, homoseksual, pengguna narkoba, penderita penyakit hati, individu yang bekerja dengan hewan primata terinfeksi hepatitis A atau peneliti virus hepatitis A, dan penderita dengan gangguan faktor pembekuan darah.
Kondisi yang Bukan Halangan untuk Melakukan Imunisasi:
Gangguan saluran napas atas atau gangguan salurancerna ringan
• Riwayat efek samping imunisasi dalam keluarga.
• Riwayat kejang dalam keluarga.
• Riwayat kejang demam
• Riwayat penyakit infeksi terdahulu
• Kontak dengan penderita suatu penyakit infeksi
• Kelainan saraf menetap seperti palsi serebralsindrom Down
• Eksim dan kelainan lokal di kulit
• Penyakit kronis (jantung, paru, penyakit metabolik)
• Terapi antibiotika; terapi steroid topikal (terapi lokal, kulit, mata)
• Riwayat kuning pada masa neonatus atau beberapa hari setelah lahir
• Berat lahir rendah
• Ibu si anak sedang hamil
• Usia anak melebihi usia rekomendasi imunisasi
Kondisi Dimana Imunisasi Tidak Dapat Diberikan atau Imunisasi Boleh Ditunda:
• Sakit berat dan akut; Demam tinggi;
• Reaksi alergi yang berat atau reaksi anafilaktik;
• Bila anak menderita gangguan sistem imun berat (sedang menjalani terapi steroid jangka lama, HIV) tidak boleh diberi vaksin hidup (Polio Oral, MMR, BCG, Cacar Air).
• Alergi terhadap telur, hindari imunisasi influenza
Jadwal Imunisasi
Berikut ini adalah jadwal imunisasi anak rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Periode 2004 (revisi September 2003):
Keterangan jadwal imnisasi rekomendasi IDAI :
1. Saat Lahir - Hepatitis B-1 HB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada umur 1 dan 6 bulan. Apabila status HbsAg-B ibu positif, dalam waktu 12 jam setelah lahir diberikan HBlg 0,5 ml bersamaan dengan vaksin HB-1. Apabila semula status HbsAg ibu tidak diketahui dan ternyata dalam perjalanan selanjutnya diketahui bahwa ibu HbsAg positif maka masih dapat diberikan HBlg 0,5 ml sebelum bayi berumur 7 hari. Polio-0 Polio-0 diberikan saat kunjungan pertama. Untuk bayi yang lahir di RB/RS polio oral diberikan saat bayi dipulangkan (untuk menghindari transmisi virus vaksin kepada bayi lain)
2. 1 Bulan - Hepatitis B-2 Hb-2 diberikan pada umur 1 bulan, interval HB-1 dan HB-2 adalah 1 bulan.
3. 0-2 Bulan - BCG BCG dapat diberikan sejak lahir. Apabila BCG akan diberikan pada umur > 3 bulan sebaiknya dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu dan BCG diberikan apabila uji tuberkulin negatif.
4. 2 Bulan - DTP-1 DTP-1 diberikan pada umur lebih dari 6 minggu, dapat dipergunakan DTwp atau DTap. DTP-1 diberikan secara kombinasi dengan Hib-1 (PRP-T). Hib-1 Hib-1 diberikan mulai umur 2 bulan dengan interval 2 bulan. Hib-1 dapat diberikan secara terpisah atau dikombinasikan dengan DTP-1. Polio-1 Polio-1 dapat diberikan bersamaan dengan DTP-1
5. 4 Bulan - DTP-2 DTP-2 (DTwp atau DTap) dapat diberikan secara terpisah atau dikombinasikan dengan Hib-2 (PRP-T). Hib-2 Hib-2 dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan dengan DTP-2. Polio-2 Polio-2 diberikan bersamaan dengan DTP-2
6. 6 Bulan - DTP-3 DTP-3 dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan dengan Hib-3 (PRP-T). Hib-3 Apabila mempergunakan Hib-OMP, Hib-3 pada umur 6 bulan tidak perlu diberikan. Polio-3 Polio-3 diberikan bersamaan dengan DTP-3. Hepatitis B-3 HB-3 diberikan umur 6 bulan. Untuk mendapatkan respons imun optimal, interval HB-2 dan HB-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan.
7. 9 Bulan - Campak-1 Campak-1 diberikan pada umur 9 bulan, campak-2 merupakan program BIAS pada SD kelas 1, umur 6 tahun. Apabila telah mendapatkan MMR pada umur 15 bulan, campak-2 tidak perlu diberikan.
8. 15-18 Bulan - MMR Apabila sampai umur 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak, MMR dapat diberikan pada umur 12 bulan. Hib-4 Hib-4 diberikan pada 15 bulan (PRP-T atau PRP-OMP).
9. 18 Bulan - DTP-4 DTP-4 (DTwp atau DTap) diberikan 1 tahun setelah DTP-3. Polio-4 Polio-4 diberikan bersamaan dengan DTP-4.
10. 2 Tahun - Hepatitis A Vaksin HepA direkomendasikan pada umur > 2 tahun, diberikan dua kali dengan interval 6-12 bulan.
11. 2-3 Tahun - Tifoid Vaksin tifoid polisakarida injeksi direkomendasikan untuk umur > 2 tahun. Imunisasi tifoid polisakarida injeksi perlu diulang setiap 3 tahun.
12. 5 Tahun - DTP-5 DTP-5 diberikan pada umur 5 tahun (DTwp/DTap). Polio-5 Polio-5 diberikan bersamaan dengan DTP-5.
13. 6 Tahun - MMR Diberikan untuk catch-up immunization pada anak yang belum mendapatkan MMR-1.
14. 10 Tahun - DT/TT Menjelang pubertas, vaksin tetanus ke-5 (dT atau TT) diberikan untuk mendapatkan imunitas selama 25 tahun. Varisela Vaksin varisela diberikan pada umur 10 tahun
DAYA TAHAN TUBUH
Daya tahan tubuh merupakan kemampuan fisik, yang berfungsi untuk membentengi tubuh dari masuknya kuman. Oleh karena itu penting sekali bagi kita untuk tetap menjaga daya tahan tubuh yang kita miliki. Jika daya tahan tubuh yang kita miliki baik, maka tubuh akan sehat. Sebaliknya, jika daya tahan tubuh menurun, maka kuman akan mudah masuk ke dalam tubuh, dan tubuh akan lebih mudah terjangkit penyakit.
Oleh karena itu, penting sekali menjaga daya tahan tubuh agar tetap baik. Beberapa cara di antaranya adalah :
1. Perhatikan gizi makanan
Salah satu cara untuk menjaga daya tahan tubuh agar selalu baik, adalah makan makanan yang bergizi. Makanan bergizi adalah makanan yang mengandung 4 sehat 5 sempurna, yang mengandung unsur-unsur (karbohidrat, lemak, protein, mineral, dan lainnya) yang dibutuhkan oleh tubuh.
2. Istirahat yang cukup
Kurang istirahat dapat mengakibatkan penurunan terhadap daya tahan tubuh. Untuk itu kebutuhan tidur harus dapat dipenuhi dengan baik. Normalnya, kebutuhan tidur orang dalam sehari dapat tercukupi jika ia telah beristirahat selama kurang lebih 8 jam.
3. Olahraga yang teratur
Tidak perlu berolahraga terlalu berat dan berlebihan. Asalkan dilakukan secara teratur, hasil yang didapat akan lebih baik. Jenis olahlaga dapat dipilih sesuai kemampuan tubuh masing-masing, misalnya senam, lari, berenang, tenis, dan lainnya. Idealnya olahraga yang baik dilakukan secara teratur 3 kali dalam seminggu.
4. Stres berlebih
Stres membuat seseorang tidak semangat dalam melakukan berbagai aktivitas., mudah emosi, sulit tidur, dan nafsu makan menurun. Jika tetap dibiarkan, maka akan mengganggu kesehatan tubuh. Tanggulangi sesegera mungkin
5. Konsumsi vitamin
Vitamin dapat membantu memenuhi kebutuhan tubuh. Pilihlah vitamin yang benar-benar telah teruji dan aman untuk dikonsumsi
Penyebab timbulnya penyakit AIDS belum dapat dijelaskan sepenuhnya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa virus HIVtelah ada di dalam tubuh sebelum munculnya penyakit AIDS ini. Namun kenyataan bahwa tidak semua orang yang terinfeksi virus HIV ini terjangkit penyakit AIDS menunjukkan bahwa ada faktor-faktor lain yang berperan di sini. Penggunaan alkohol dan obat bius, kurang gizi, tingkat stress yang tinggi dan adanya penyakit lain terutama penyakit yang ditularkan lewat alat kelamin merupakan faktor-faktor yang mungkin berperan. Faktor yang lain adalah waktu. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kesempatan untuk terkena AIDS meningkat, bukannya menurun dikarenakan faktor waktu.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa HIV secara terus menerus memperlemah sistem kekebalan tubuh dengan cara menyerang dan menghancurkan kelompok-kelompok sel-sel darah putih tertentu yaitu sel T-helper. Normalnya sel T-helper ini (juga disebut sel T4) memainkan suatu peranan penting pada pencegahan infeksi. Ketika terjadi infeksi, sel-sel ini akan berkembang dengan cepat, memberi tanda pada bagian sistem kekebalan tubuh yang lain bahwa telah terjadi infeksi. Hasilnya, tubuh memproduksi antibodi yang menyerang dan menghancurkan bakteri-bakteri dan virus-virus yang berbahaya.
Selain mengerahkan sistem kekebalan tubuh untuk memerangi infeksi, sel T-helper juga memberi tanda bagi sekelompok sel-sel darah putih lainnya yang disebut sel T-suppressor atau T8, ketika tiba saatnya bagi sistem kekebalan tubuh untuk menghentikan serangannya.
Biasanya kita memiliki lebih banyak sel-sel T-helper dalam darah daripada sel-sel T-suppressor, dan ketika sistem kekebalan sedang bekerja dengan baik, perbandingannya kira-kira dua banding satu. Jika orang menderita penyakit AIDS, perbandingan ini kebalikannya, yaitu sel-sel T-suppressor melebihi jumlah sel-sel T-helper. Akibatnya, penderita AIDS tidak hanya mempunyai lebih sedikit sel-sel penolong yaitu sel T-helper untuk mencegah infeksi, tetapi juga terdapat sel-sel penyerang yang menyerbu sel-sel penolong yang sedang bekerja.
Selain mengetahui bahwa virus HIV membunuh sel-sel T-helper, kita juga perlu tahu bahwa tidak seperti virus-virus yang lain, virus HIV ini mengubah struktur sel yang diserangnya. Virus ini menyerang dengan cara menggabungkan kode genetiknya dengan bahan genetik sel yang menularinya. Hasilnya, sel yang ditulari berubah menjadi pabrik pengasil virus HIV yang dilepaskan ke dalam aliran darah dan dapat menulari sel-sel T-helper yang lain. Proses ini akan terjadi berulang-ulang.
Virus yang bekerja seperti ini disebut retrovirus. Yang membuat virus ini lebih sulit ditangani daripada virus lain adalah karena virus ini menjadi bagian dari struktur genetik sel yang ditulari, dan tidak ada cara untuk melepaskan diri dari virus ini. Ini berarti bahwa orang yang terinfeksi virus ini mungkin terinfeksi seumur hidupnya. Selain itu dapat berarti bahwa orang yang mengidap HIV dapat menulari sepanjang hidup.
Cara virus ini merusak fungsi sistem kekebalan tubuh belum dapat diungkapkan sepenuhnya. Teori yang terbaru namun belum dapat dibuktikan kebenarannya menyatakan bahwa rusaknya sistem kekebalan yang terjadi pada pengidap AIDS mungkin dikarenakan tubuh menganggap sel-sel T-helpernya yang terinfeksi sebagai “musuh”. Jika demikian kasusnya, lalu apa yang akan dilakukan oleh mekanisme pertahanan tubuh yaitu mulai memproduksi antibodi untuk mencoba menyerang sel-sel T yang telah terinfeksi. Akan tetapi antibodi juga akan diproduksi untuk menyerang sel T-helper yang tidak terinfeksi, mungkin juga merusak atau membuat sel-sel ini tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Jika demikian, HIV akan menyerang sistem kekebalan tubuh tidak hanya dengan membunuh sel-T tetapi dengan mengelabuhi tubuh dengan membiarkan tubuh sendiri yang menyerang mekanisme pertahanannya.
HIV tidak hanya menyerang sistem kekebalan tubuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa virus ini juga merusask otak dan sistem saraf pusat. Otopsi yang dilakukan pada otak pengidap AIDS yang telah meniggal mengungkapkan bahwa virus ini juga menyebabkan hilangnya banyak sekali jaringan otak. Pada waktu yang bersamaan, peneliti lain telah berusaha untuk mengisolasi HIV dengan cairan cerebrospinal dari orang yang tidak menunjukkan gejala-gejala terjangkit AIDS. Penemuan ini benar-benar membuat risau. Sementara para peneliti masih berpikir bahwa HIV hanya menyerang sistem kekebalan, semua orang yang terinfeksi virus ini tetapi tidak menunjukkan gejala terjangkit AIDS atau penyakit yang berhubungan dengan HIV dapat dianggap bisa terbebas dari kerusakan jaringan otak. Saat ini hal yang cukup mengerikan adalah bahwa mereka yang telah terinfeksi virus HIV pada akhirnya mungkin menderita kerusakan otak dan sistem saraf pusat.
PENYEBAB HEPATITIS B
Hepatitis B adalah penyakit infeksi pada hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Jika infeksi hepatitis B sudah kronik atau jangka panjang dapat mengakibatkan kerusakan hati yang parah, seperti pengerasan hati (sirosis) dan kanker hati (karsinoma hepatoseluler) yang mengakibatkan kematian.
Virus hepatitis B (VHB) menyerang tanpa pandang bulu, baik pada anak-anak ataupun orang dewasa. Infeksi tersembunyi dari penyakit ini membuat sebagian besar orang merasa sehat dan tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi dan berpotensi untuk menularkan virus kepada orang lain.
Fakta menunjukkan bahwa hepatitis B adalah penyebab kematian nomor 10 di dunia. Saat ini, di dunia diperkirakan sebanyak 2 miliar orang terinfeksi VHB, dan 350 juta orang berlanjut menjadi pasien dengan infeksi hepatitis B kronik.
Di Indonesia, berdasarkan studi yang dilakukan Mohamed J Gastroenterol Hepatol (2004), angka kejadian infeksi hepatitis B kronik mencapai 5 sampai 10% dari total penduduk. Di Australia tercatat 0,1%, Tiongkok 9,7%, Hong Kong 8,8%, dan India sebesar 3,34%.
“Dari tahun ke tahun, jumlah penderita hepatitis B di Indonesia terus meningkat,” ujar dr Unggul Budihusodo SpPD KGEH, ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) di Jakarta, kemarin.
Unggul mengungkapkan, masalah penyakit hepatitis B tidak hanya menjadi tanggung jawab institusi kesehatan saja, namun harus pula melibatkan semua elemen masyarakat guna memberikan edukasi dan informasi mengenai bahaya hepatitis B.
Terkait dengan hal itu, PPHI akan menggelar kampanye awam tentang hepatitis B berlangsung Juli–Agustus 2008, dengan Jakarta sebagai percontohan awal.
Kampanye bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta sebagai proyek percontohan, terhadap hepatitis B, terutama bagi mereka yang termasuk kelompok berisiko tinggi. Selain itu, kampanye bertujuan untuk menyediakan informasi mengenai hepatitis B, mulai dari pencegahan, diagnosis, sampai penatalaksanaan.
Memperingati Hari Hepatitis Sedunia yang berlangsung setiap 19 Mei, Kelompok Kerja Hepatitis yang diketuai Prof Ali Sulaiman, pada 9 Juni 2008 lalu menggelar lokakarya mengenai virus hepatitis.
Sumber virus hepatitis B berasal dari darah atau cairan tubuh yang menyebar melalui kulit. Virus hepatitis B merupakan anggota kepadnaviridae yang menginfeksi sel hati 100 kali lebih infeksius dari human immunodeficiency virus (HIV), sekaligus menjadi penyebab utama timbulnya kanker hati.
Gejala klinis yang biasa terdapat pada mereka yang terinfeksi virus hepatitis B berupa kelelahan, penurunan nafsu makan, demam, diare, perubahan warna urin, serta feses. Gejala lebih banyak ditemukan pada orang dewasa ketimbang pada anak-anak.
Penyebaran virus hepatitis B melalui transmisi perinatal terjadi antara ibu pada bayi, dimana 90% bayi yang terinfeksi akan menjadi kronik. Sedangkan transmisi horisontal, yaitu antara anak ke anak, jarum yang terkontaminasi, kontak seksual, tenaga kesehatan, atau tranfusi darah.
“Sebesar 6% orang yang terinfeksi hepatitis B sekitar usia 5 tahun akan menjadi kronik,” ungkap Unggul Budihusodo yang juga menjabat ketua Subdivisi Hepatologi Departemen Penyakit Dalam RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.
Sebesar 15% hingga 40% dari seluruh penderita hepatitis B kronik, akan mengalami perburukan penyakit. Perkembangan penyakit dipicu dari faktor-faktor, seperti muatan virus, gender, umur saat infeksi, status imun penjamu, mutasi virus, status hepatitis B e antigen (HBeAG), alkohol, serta ko-infeksi HCV atau HIV.
Diagnosa hepatitis B kronik harus didukung oleh data klinis dan laboratorium, meliputi HBV deoxyribonucleic acid (HBV DNA) terdeteksi dalam serum, kenaikan enzim hati, adanya bukti histologis atau hasil USG yang menunjukkan proses inflamasi hati atau sirosis.
Sekitar 53% kejadian kanker hati berhubungan dengan hepatitis B, dimana kanker hati adalah salah satu kanker penyebab kematian nomor 3 di dunia. Penderita hepatitis B memiliki lebih dari 25 kali peningkatan risiko untuk menderita kanker hati daripada mereka yang tidak terinfeksi.
Risiko kanker hati akan meningkat seiring dengan peningkatan HBV DNA dalam serum. Virus hepatitis B merangsang timbulnya kanker hati melalui penyatuan DNA virus ke sel hait penderita, pembentukan protein virus HBx, serta meningkatkan kecepatan replika sel hati.(izn)
Salah satu penyebabnya adalah virus hepatitis B. Penyakit ini tergolong sebagai penyakit infeksi yang perlu penanganan serius karena dapat berakibat fatal bahkan kematian.
Yang beresiko tinggi diserang penyakit hepatitis B :
Orang yang sering berhubungan sexual dengan berganti-ganti pasangan
Orang yang sering menggunakan jarum suntik secara bergantian atau bersama sama dengan orang lain.
Pekerja dibidang kesehatan yang mungkin terpapar oleh darah yang terinfeksi atau terluka akibat tusukan jarum yang tidak disengaja.
Orang yang menerima tranfusi darah yang telah tercemar virus hepatitis B. Tetapi kemungkinan itu sangat kecil karena rumah sakit telah melakukan pemeriksaan darah transfusi untuk mengetahui kemungkinan adanya virus hepatitis B. Bila darah tersebut telah terinfeksi maka tidak akan digunakan.
Setelah terinfeksi dengan hepatitis B, infeksi yang timbul tidak tentu ; anda mungkin terinfeksi atau tidak. Mungkin saja gejala-gejalanya akan muncul dan sembuh, atau bahkan mungkin tanpa gejala tetapi nanti akan timbul gejala yang mengganggu fungsi hati anda.
Dalam beberapa kasus, penyakit ini bisa menyebabkan anda berada dalam tahap penularan untuk jangka waktu lama. Jika hal ini sampai terjadi maka hepatitis B akan mengganggu anda selama hayat, baik kesehatan anda maupun orang-orang disekitar anda. Dan bahkan jika anda tidak terinfeksi setelah terpapar dengan benda-benda yang bisa menularkan hepatitis, anda masih berisiko tinggi untuk menderita penyakit ini.
Virus Poten
Sejauh ini virus hepatitis B lebih menular daripada AIDS. Risiko terbesar hepatitis B ditularkan melalui jarum suntik (risikonya 30 x lebih besar) dan dapat bertahan hidup diluar tubuh manusia. Virus AIDS dan hepatitis B dapat ditemukan di dalam darah, namun virus hepatitis B lebih terkonsentrasi dalam darah daripada AIDS.
Penularan
Hepatitis B menular melalui darah atau cairan tubuh lainnya yang mengandung darah. Di rumah sakit, penyakit ini bisa ditularkan lewat jarum suntik atau alat lainnya, melalui luka yang terbuka atau luka lecet di kulit, atau tumpahan cairan tubuh lainnya ke kulit.
Infeksi dengan Gejala
Gejala ynag ditimbulkan sangat bervariasi seperti influensa (demam, otot dan sendi terasa ngilu, menurunnya napsu makan, merasa lelah) dan muntah dalam waktu yang cukup lama, kadang disertai warna kekuningan pada kulit dan retina. Gejala-gejala itu bisa timbul dalam waktu beberapa minggu hingga bulan sejak anda terpapar benda yang menular. Dan yang perlu diperhatikan, penyakit ini bisa sangat menular sebelum gejala-gejalanya timbul.
Infeksi tanpa Gejala
Banyak orang yang terinfeksi hepatitis B namun tidak menampakan satu gejalapun, mereka bisa menularkan penyakit ini kepada orang lain. Mereka juga bisa mengalami masalah kesehatan seperti sirosis atau kanker hati, bahkan gagal fungsi hati.
Vaksin : Penumbuh Kekebalan
Vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau "liar". Berasal dari kata vaccinia, penyebab infeksi cacar sapi yang ketika diberikan kepada manusia, akan menimbulkan pengaruh kekebalan terhadap cacar.
Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit. Vaksin dapat juga berupa organisme mati atau hasil-hasil pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus, dsb.).
Imunisasi yang Menumbuhkan Kekebalan
Pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu disebut Vaksinasi. Disebut juga Imunisasi karena vaksin akan mempersiapkan sistem kekebalan manusia atau hewan untuk bertahan terhadap serangan patogen tertentu, terutama bakteri, virus, atau toksin. Sistem kekebalan mengenali partikel vaksin sebagai agen asing, menghancurkannya, dan "mengingat"-nya. Ketika di kemudian hari agen yang virulen menginfeksi tubuh, sistem kekebalan telah siap:
1. Menetralkan bahannya sebelum bisa memasuki sel; dan
2. Mengenali dan menghancurkan sel yang telah terinfeksi sebelum agen ini dapat berbiak.
Imunisasi dibedakan dalam dua jenis, imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Pada imunisasi aktif, tubuh ikut berperan dalam membentuk kekebalan (imunitas). Tubuh seseorang dirangsang untuk membangun pertahanan imunologis terhadap kontak alamiah dengan berbagai penyakit. Sedangkan dalam imunisasi pasif, tubuh tidak dengan sendirinya membentuk kekebalan, tetapi diberikan dalam bentuk antibodi dari luar.
Seseorang yang mempunyai risiko terjangkit penyakit tertentu, diberi antibodi yang spesifik. Umumnya bayi dan anak diberi imunisasi aktif karena imunisasi jenis ini memberi kekebalan yang lebih lama. Sedangkan imunisasi pasif hanya diberikan dalam keadaan sangat mendesak, yakni jika tubuh anak diduga belum mempunyai kekebalan ketika terinfeksi oleh kuman penyakit ganas, seperti tetanus.
Tapi tak jarang pula imunisasi aktif dan pasif diberikan dalam waktu bersamaan. Misalnya, seorang anak yang terserang penyakit tertentu akan memperoleh imunisasi pasif untuk segera menetralisir racun kuman yang beredar. Sedangkan imunisasi aktif diberikan juga untuk mendapatkan kekebalan setelah sembuh dari penyakit tersebut.
Kedua jenis imunisasi tersebut juga berbeda dalam segi bahan bakunya. Dalam imunisasi aktif, tubuh diberi sebagian atau seluruh komponen kuman atau suatu bentuk rekayasa kuman sehingga terjadi rangsangan kekebalan tubuh (imunologik) yang menyerupai respon terhadap infeksi alamiah oleh kuman itu. Sedangkan respon dalam tubuh itu sendiri bisa berupa terbentuknya antitoksin (zat anti terhadap racun yang dibuat oleh mikroorganisme) atau bentuk lain yang efeknya menetralisir kuman. Sementara dalam imunisasi pasif, tubuh diberi antibodi spesifik (sudah siap pakai) yang dapat habis dalam tubuhnya.
Beberapa imunisasi dapat membentuk kekebalan tubuh seumur hidup, seperti campak. Namun ada pula bentuk imunisasi yang memberikan kekebalan tubuh dalam jangka waktu tertentu. Misalnya saja, DPT (difteri, pertusis, tetanus) dan polio.
Efektivitas suatu imunisasi aktif dapat diukur dengan memeriksa adanya proteksi terhadap suatu penyakit yang dituju. Pemeriksaan imunoglobin sering dipakai untuk pembuktian terjadinya proteksi terhadap penyakit tertentu. Tetapi bukan merupakan jaminan mutlak, karena pada keadaan tertentu kadar imunoglobin tidak dapat digunakan sebagai patokan terjadinya proteksi.
Pada dasarnya ada vaksin yang dibuat dari kuman yang dilemahkan atau dimatikan. Kuman yang dimatikan ini tidak dapat berkembang biak (replikasi) dalam tubuh manusia, sehingga untuk merangsang pembentukan antibodi diperlukan dalam jumlah banyak. Selain itu, secara berkala dibutuhkan juga pemberian vaksin ulangan untuk memperkuat antibodi.
Jenis-Jenis Imunisasi
Biasanya imunisasi bisa diberikan dengan cara disuntikkan maupun diteteskan pada mulut anak balita (bawah lima tahun). Berikut ini adalah Jenis-jenis imunisasi pada balita :
a. Imunisasi BCG
Vaksinasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). BCG diberikan 1 kali sebelum anak berumur 2 bulan. Vaksin ini mengandung bakteri Bacillus Calmette-Guerrin hidup yang dilemahkan, sebanyak 50.000-1.000.000 partikel/dosis. Imunisasi BCG dilakukan sekali pada bayi usia 0-11 bulan, lalu DPT diberikan tiga kali pada bayi usia 2-11 bulan dengan interval minimal empat minggu. Imunisasi polio diberikan empat kali pada bayi 0-11 bulan dengan interval minimal empat minggu. Sedangkan campak diberikan satu kali pada bayi usai 9-11 bulan. Terakhir, imunisasi hepatitis B harus diberikan tiga kali pada bayi usia 1-11 bulan, dengan interval minimal empat minggu.
b. Imunisasi DPT
Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Pertusis (batuk rejan) adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak. Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang
c. Imunisasi DT
Imunisasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasilkan oleh kuman penyebab difteri dan tetanus. Vaksin DT dibuat untuk keperluan khusus, misalnya pada anak yang tidak boleh atau tidak perlu menerima imunisasi pertusis, tetapi masih perlu menerima imunisasi difteri dan tetanus. Setiap orang dewasa harus mendapat vaksinasi lengkap tiga dosis seri primer dari difteri dan toksoid tetanus, dengan dua dosis diberikan paling tidak berjarak empat minggu, dan dosis ketiga diberikan enam hingga 12 bulan setelah dosis kedua. Jika orang dewasa belum pernah mendapat imunisasi tetanus dan difteri maka diberikan seri primer diikuti dosis penguat setiap 10 tahun.
d. Imunisasi TT
Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus. Jenis imunisasi ini minimal dilakukan lima kali seumur hidup untuk mendapatkan kekebalan penuh. Imunisasi TT yang pertama bisa dilakukan kapan saja, misalnya sewaktu remaja. Lalu TT2 dilakukan sebulan setelah TT1 (dengan perlindungan tiga tahun). Tahap berikutnya adalah TT3, dilakukan enam bulan setelah TT2 (perlindungan enam tahun), kemudian TT4 diberikan satu tahun setelah TT3 (perlindungan 10 tahun), dan TT5 diberikan setahun setelah TT4 (perlindungan 25 tahun).
e. Imunisasi Campak
Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak (tampek). Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis pada saat anak berumur 9 bulan atau lebih.
f. Imunisasi MMR
Imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak, gondongan dan campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali. Campak menyebabkan demam, ruam kulit, batuk, hidung meler dan mata berair. Campak juga menyebabkan infeksi telinga dan pneumonia. Campak juga bisa menyebabkan masalah yang lebih serius, seperti pembengkakan otak dan bahkan kematian. Gondongan menyebabkan demam, sakit kepala dan pembengkakan pada salah satu maupun kedua kelenjar liur utama yang disertai nyeri. Gondongan bisa menyebabkan meningitis (infeksi pada selaput otak dan korda spinalis) dan pembengkakan otak. Kadang gondongan juga menyebabkan pembengkakan pada buah zakar sehingga terjadi kemandulan. Campak Jerman (rubella) menyebabkan demam ringan, ruam kulit dan pembengkakan kelenjar getah bening leher. Rubella juga bisa menyebabkan pembengkakan otak atau gangguan perdarahan.
g. Imunisasi Hib
Imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh Haemophilus influenza tipe b. Organisme ini bisa menyebabkan meningitis, pneumonia dan infeksi tenggorokan berat yang bisa menyebabkan anak tersedak. Sampai saat ini, imunisasi HiB belum tergolong imunisasi wajib, mengingat harganya yang cukup mahal. Tetapi dari segi manfaat, imunisasi ini cukup penting. Hemophilus influenzae merupakan penyebab terjadinya radang selaput otak (meningitis), terutama pada bayi dan anak usia muda. Penyakit ini sangat berbahaya karena seringkali meninggalkan gejala sisa yang cukup serius. Misalnya kelumpuhan. Ada 2 jenis vaksin yang beredar di Indonesia, yaitu Act Hib dan Pedvax.
h. Imunisasi Varisella
Imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air. Cacar air ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan, kemudian secara perlahan mengering dan membentuk keropeng yang akan mengelupas.
i. Imunisasi HBV
Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B. Hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian. Karena itu imunisasi hepatitis B termasuk yang wajib diberikan. Jadwal pemberian imunisasi ini sangat fleksibel, tergantung kesepakatan dokter dan orangtua. Bayi yang baru lahir pun bisa memperolehnya. Imunisasi ini pun biasanya diulang sesuai petunjuk dokter. Orang dewasa yang berisiko tinggi terinfeksi hepatitis B adalah individu yang dalam pekerjaannya kerap terpapar darah atau produk darah, klien dan staf dari institusi pendidikan orang cacat, pasien hemodialisis (cuci darah), orang yang berencana pergi atau tinggal di suatu tempat di mana infeksi hepatitis B sering dijumpai, pengguna obat suntik, homoseksual/biseksual aktif, heteroseksual aktif dengan pasangan berganti-ganti atau baru terkena penyakit menular seksual, fasilitas penampungan korban narkoba, imigran atau pengungsi di mana endemisitas daerah asal sangat tinggi/lumayan. Berikan tiga dosis dengan jadwal 0, 1, dan 6 bulan. Bila setelah imunisasi terdapat respon yang baik maka tidak perlu dilakukan pemberian imunisasi penguat (booster).
j. Imunisasi Pneumokokus Konjugata
Imunisasi pneumokokus konjugata melindungi anak terhadap sejenis bakteri yang sering menyebabkan infeksi telinga. Bakteri ini juga dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius, seperti meningitis dan bakteremia (infeksi darah).
k. Tipa
Imunisasi tipa diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap demam tifoid (tifus atau paratifus). Kekebalan yang didapat bisa bertahan selama 3 sampai 5 tahun. Oleh karena itu perlu diulang kembali. Imunisasi ini dapat diberikan dalam 2 jenis: imunisasi oral berupa kapsul yang diberikan selang sehari selama 3 kali. Biasanya untuk anak yang sudah dapat menelan kapsul. Sedangkan bentuk suntikan diberikan satu kali. Pada imunisasi ini tidak terdapat efek samping.
l. Hepatitis A
Penyakit ini sebenarnya tidak berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya. Tetapi bila terkena penyakit ini penyembuhannya memerlukan waktu yang lama, yaitu sekitar 1 sampai 2 bulan. Jadwal pemberian yang dianjurkan tak berbeda dengan imunisasi hepatitis B. Vaksin hepatitis A diberikan dua dosis dengan jarak enam hingga 12 bulan pada orang yang berisiko terinfeksi virus ini, seperti penyaji makanan (food handlers), mereka yang sering melakukan perjalanan atau bekerja di suatu negara yang mempunyai prevalensi tinggi hepatitis A, homoseksual, pengguna narkoba, penderita penyakit hati, individu yang bekerja dengan hewan primata terinfeksi hepatitis A atau peneliti virus hepatitis A, dan penderita dengan gangguan faktor pembekuan darah.
Kondisi yang Bukan Halangan untuk Melakukan Imunisasi:
Gangguan saluran napas atas atau gangguan salurancerna ringan
• Riwayat efek samping imunisasi dalam keluarga.
• Riwayat kejang dalam keluarga.
• Riwayat kejang demam
• Riwayat penyakit infeksi terdahulu
• Kontak dengan penderita suatu penyakit infeksi
• Kelainan saraf menetap seperti palsi serebralsindrom Down
• Eksim dan kelainan lokal di kulit
• Penyakit kronis (jantung, paru, penyakit metabolik)
• Terapi antibiotika; terapi steroid topikal (terapi lokal, kulit, mata)
• Riwayat kuning pada masa neonatus atau beberapa hari setelah lahir
• Berat lahir rendah
• Ibu si anak sedang hamil
• Usia anak melebihi usia rekomendasi imunisasi
Kondisi Dimana Imunisasi Tidak Dapat Diberikan atau Imunisasi Boleh Ditunda:
• Sakit berat dan akut; Demam tinggi;
• Reaksi alergi yang berat atau reaksi anafilaktik;
• Bila anak menderita gangguan sistem imun berat (sedang menjalani terapi steroid jangka lama, HIV) tidak boleh diberi vaksin hidup (Polio Oral, MMR, BCG, Cacar Air).
• Alergi terhadap telur, hindari imunisasi influenza
Jadwal Imunisasi
Berikut ini adalah jadwal imunisasi anak rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Periode 2004 (revisi September 2003):
Keterangan jadwal imnisasi rekomendasi IDAI :
1. Saat Lahir - Hepatitis B-1 HB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada umur 1 dan 6 bulan. Apabila status HbsAg-B ibu positif, dalam waktu 12 jam setelah lahir diberikan HBlg 0,5 ml bersamaan dengan vaksin HB-1. Apabila semula status HbsAg ibu tidak diketahui dan ternyata dalam perjalanan selanjutnya diketahui bahwa ibu HbsAg positif maka masih dapat diberikan HBlg 0,5 ml sebelum bayi berumur 7 hari. Polio-0 Polio-0 diberikan saat kunjungan pertama. Untuk bayi yang lahir di RB/RS polio oral diberikan saat bayi dipulangkan (untuk menghindari transmisi virus vaksin kepada bayi lain)
2. 1 Bulan - Hepatitis B-2 Hb-2 diberikan pada umur 1 bulan, interval HB-1 dan HB-2 adalah 1 bulan.
3. 0-2 Bulan - BCG BCG dapat diberikan sejak lahir. Apabila BCG akan diberikan pada umur > 3 bulan sebaiknya dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu dan BCG diberikan apabila uji tuberkulin negatif.
4. 2 Bulan - DTP-1 DTP-1 diberikan pada umur lebih dari 6 minggu, dapat dipergunakan DTwp atau DTap. DTP-1 diberikan secara kombinasi dengan Hib-1 (PRP-T). Hib-1 Hib-1 diberikan mulai umur 2 bulan dengan interval 2 bulan. Hib-1 dapat diberikan secara terpisah atau dikombinasikan dengan DTP-1. Polio-1 Polio-1 dapat diberikan bersamaan dengan DTP-1
5. 4 Bulan - DTP-2 DTP-2 (DTwp atau DTap) dapat diberikan secara terpisah atau dikombinasikan dengan Hib-2 (PRP-T). Hib-2 Hib-2 dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan dengan DTP-2. Polio-2 Polio-2 diberikan bersamaan dengan DTP-2
6. 6 Bulan - DTP-3 DTP-3 dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan dengan Hib-3 (PRP-T). Hib-3 Apabila mempergunakan Hib-OMP, Hib-3 pada umur 6 bulan tidak perlu diberikan. Polio-3 Polio-3 diberikan bersamaan dengan DTP-3. Hepatitis B-3 HB-3 diberikan umur 6 bulan. Untuk mendapatkan respons imun optimal, interval HB-2 dan HB-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan.
7. 9 Bulan - Campak-1 Campak-1 diberikan pada umur 9 bulan, campak-2 merupakan program BIAS pada SD kelas 1, umur 6 tahun. Apabila telah mendapatkan MMR pada umur 15 bulan, campak-2 tidak perlu diberikan.
8. 15-18 Bulan - MMR Apabila sampai umur 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak, MMR dapat diberikan pada umur 12 bulan. Hib-4 Hib-4 diberikan pada 15 bulan (PRP-T atau PRP-OMP).
9. 18 Bulan - DTP-4 DTP-4 (DTwp atau DTap) diberikan 1 tahun setelah DTP-3. Polio-4 Polio-4 diberikan bersamaan dengan DTP-4.
10. 2 Tahun - Hepatitis A Vaksin HepA direkomendasikan pada umur > 2 tahun, diberikan dua kali dengan interval 6-12 bulan.
11. 2-3 Tahun - Tifoid Vaksin tifoid polisakarida injeksi direkomendasikan untuk umur > 2 tahun. Imunisasi tifoid polisakarida injeksi perlu diulang setiap 3 tahun.
12. 5 Tahun - DTP-5 DTP-5 diberikan pada umur 5 tahun (DTwp/DTap). Polio-5 Polio-5 diberikan bersamaan dengan DTP-5.
13. 6 Tahun - MMR Diberikan untuk catch-up immunization pada anak yang belum mendapatkan MMR-1.
14. 10 Tahun - DT/TT Menjelang pubertas, vaksin tetanus ke-5 (dT atau TT) diberikan untuk mendapatkan imunitas selama 25 tahun. Varisela Vaksin varisela diberikan pada umur 10 tahun
DAYA TAHAN TUBUH
Daya tahan tubuh merupakan kemampuan fisik, yang berfungsi untuk membentengi tubuh dari masuknya kuman. Oleh karena itu penting sekali bagi kita untuk tetap menjaga daya tahan tubuh yang kita miliki. Jika daya tahan tubuh yang kita miliki baik, maka tubuh akan sehat. Sebaliknya, jika daya tahan tubuh menurun, maka kuman akan mudah masuk ke dalam tubuh, dan tubuh akan lebih mudah terjangkit penyakit.
Oleh karena itu, penting sekali menjaga daya tahan tubuh agar tetap baik. Beberapa cara di antaranya adalah :
1. Perhatikan gizi makanan
Salah satu cara untuk menjaga daya tahan tubuh agar selalu baik, adalah makan makanan yang bergizi. Makanan bergizi adalah makanan yang mengandung 4 sehat 5 sempurna, yang mengandung unsur-unsur (karbohidrat, lemak, protein, mineral, dan lainnya) yang dibutuhkan oleh tubuh.
2. Istirahat yang cukup
Kurang istirahat dapat mengakibatkan penurunan terhadap daya tahan tubuh. Untuk itu kebutuhan tidur harus dapat dipenuhi dengan baik. Normalnya, kebutuhan tidur orang dalam sehari dapat tercukupi jika ia telah beristirahat selama kurang lebih 8 jam.
3. Olahraga yang teratur
Tidak perlu berolahraga terlalu berat dan berlebihan. Asalkan dilakukan secara teratur, hasil yang didapat akan lebih baik. Jenis olahlaga dapat dipilih sesuai kemampuan tubuh masing-masing, misalnya senam, lari, berenang, tenis, dan lainnya. Idealnya olahraga yang baik dilakukan secara teratur 3 kali dalam seminggu.
4. Stres berlebih
Stres membuat seseorang tidak semangat dalam melakukan berbagai aktivitas., mudah emosi, sulit tidur, dan nafsu makan menurun. Jika tetap dibiarkan, maka akan mengganggu kesehatan tubuh. Tanggulangi sesegera mungkin
5. Konsumsi vitamin
Vitamin dapat membantu memenuhi kebutuhan tubuh. Pilihlah vitamin yang benar-benar telah teruji dan aman untuk dikonsumsi
Langganan:
Postingan (Atom)