Selasa, 13 Januari 2009

Penyebab Aids

PENYEBAB AIDS

Penyebab timbulnya penyakit AIDS belum dapat dijelaskan sepenuhnya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa virus HIVtelah ada di dalam tubuh sebelum munculnya penyakit AIDS ini. Namun kenyataan bahwa tidak semua orang yang terinfeksi virus HIV ini terjangkit penyakit AIDS menunjukkan bahwa ada faktor-faktor lain yang berperan di sini. Penggunaan alkohol dan obat bius, kurang gizi, tingkat stress yang tinggi dan adanya penyakit lain terutama penyakit yang ditularkan lewat alat kelamin merupakan faktor-faktor yang mungkin berperan. Faktor yang lain adalah waktu. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kesempatan untuk terkena AIDS meningkat, bukannya menurun dikarenakan faktor waktu.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa HIV secara terus menerus memperlemah sistem kekebalan tubuh dengan cara menyerang dan menghancurkan kelompok-kelompok sel-sel darah putih tertentu yaitu sel T-helper. Normalnya sel T-helper ini (juga disebut sel T4) memainkan suatu peranan penting pada pencegahan infeksi. Ketika terjadi infeksi, sel-sel ini akan berkembang dengan cepat, memberi tanda pada bagian sistem kekebalan tubuh yang lain bahwa telah terjadi infeksi. Hasilnya, tubuh memproduksi antibodi yang menyerang dan menghancurkan bakteri-bakteri dan virus-virus yang berbahaya.
Selain mengerahkan sistem kekebalan tubuh untuk memerangi infeksi, sel T-helper juga memberi tanda bagi sekelompok sel-sel darah putih lainnya yang disebut sel T-suppressor atau T8, ketika tiba saatnya bagi sistem kekebalan tubuh untuk menghentikan serangannya.
Biasanya kita memiliki lebih banyak sel-sel T-helper dalam darah daripada sel-sel T-suppressor, dan ketika sistem kekebalan sedang bekerja dengan baik, perbandingannya kira-kira dua banding satu. Jika orang menderita penyakit AIDS, perbandingan ini kebalikannya, yaitu sel-sel T-suppressor melebihi jumlah sel-sel T-helper. Akibatnya, penderita AIDS tidak hanya mempunyai lebih sedikit sel-sel penolong yaitu sel T-helper untuk mencegah infeksi, tetapi juga terdapat sel-sel penyerang yang menyerbu sel-sel penolong yang sedang bekerja.
Selain mengetahui bahwa virus HIV membunuh sel-sel T-helper, kita juga perlu tahu bahwa tidak seperti virus-virus yang lain, virus HIV ini mengubah struktur sel yang diserangnya. Virus ini menyerang dengan cara menggabungkan kode genetiknya dengan bahan genetik sel yang menularinya. Hasilnya, sel yang ditulari berubah menjadi pabrik pengasil virus HIV yang dilepaskan ke dalam aliran darah dan dapat menulari sel-sel T-helper yang lain. Proses ini akan terjadi berulang-ulang.
Virus yang bekerja seperti ini disebut retrovirus. Yang membuat virus ini lebih sulit ditangani daripada virus lain adalah karena virus ini menjadi bagian dari struktur genetik sel yang ditulari, dan tidak ada cara untuk melepaskan diri dari virus ini. Ini berarti bahwa orang yang terinfeksi virus ini mungkin terinfeksi seumur hidupnya. Selain itu dapat berarti bahwa orang yang mengidap HIV dapat menulari sepanjang hidup.
Cara virus ini merusak fungsi sistem kekebalan tubuh belum dapat diungkapkan sepenuhnya. Teori yang terbaru namun belum dapat dibuktikan kebenarannya menyatakan bahwa rusaknya sistem kekebalan yang terjadi pada pengidap AIDS mungkin dikarenakan tubuh menganggap sel-sel T-helpernya yang terinfeksi sebagai “musuh”. Jika demikian kasusnya, lalu apa yang akan dilakukan oleh mekanisme pertahanan tubuh yaitu mulai memproduksi antibodi untuk mencoba menyerang sel-sel T yang telah terinfeksi. Akan tetapi antibodi juga akan diproduksi untuk menyerang sel T-helper yang tidak terinfeksi, mungkin juga merusak atau membuat sel-sel ini tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Jika demikian, HIV akan menyerang sistem kekebalan tubuh tidak hanya dengan membunuh sel-T tetapi dengan mengelabuhi tubuh dengan membiarkan tubuh sendiri yang menyerang mekanisme pertahanannya.
HIV tidak hanya menyerang sistem kekebalan tubuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa virus ini juga merusask otak dan sistem saraf pusat. Otopsi yang dilakukan pada otak pengidap AIDS yang telah meniggal mengungkapkan bahwa virus ini juga menyebabkan hilangnya banyak sekali jaringan otak. Pada waktu yang bersamaan, peneliti lain telah berusaha untuk mengisolasi HIV dengan cairan cerebrospinal dari orang yang tidak menunjukkan gejala-gejala terjangkit AIDS. Penemuan ini benar-benar membuat risau. Sementara para peneliti masih berpikir bahwa HIV hanya menyerang sistem kekebalan, semua orang yang terinfeksi virus ini tetapi tidak menunjukkan gejala terjangkit AIDS atau penyakit yang berhubungan dengan HIV dapat dianggap bisa terbebas dari kerusakan jaringan otak. Saat ini hal yang cukup mengerikan adalah bahwa mereka yang telah terinfeksi virus HIV pada akhirnya mungkin menderita kerusakan otak dan sistem saraf pusat.
PENYEBAB HEPATITIS B
Hepatitis B adalah penyakit infeksi pada hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Jika infeksi hepatitis B sudah kronik atau jangka panjang dapat mengakibatkan kerusakan hati yang parah, seperti pengerasan hati (sirosis) dan kanker hati (karsinoma hepatoseluler) yang mengakibatkan kematian.
Virus hepatitis B (VHB) menyerang tanpa pandang bulu, baik pada anak-anak ataupun orang dewasa. Infeksi tersembunyi dari penyakit ini membuat sebagian besar orang merasa sehat dan tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi dan berpotensi untuk menularkan virus kepada orang lain.
Fakta menunjukkan bahwa hepatitis B adalah penyebab kematian nomor 10 di dunia. Saat ini, di dunia diperkirakan sebanyak 2 miliar orang terinfeksi VHB, dan 350 juta orang berlanjut menjadi pasien dengan infeksi hepatitis B kronik.
Di Indonesia, berdasarkan studi yang dilakukan Mohamed J Gastroenterol Hepatol (2004), angka kejadian infeksi hepatitis B kronik mencapai 5 sampai 10% dari total penduduk. Di Australia tercatat 0,1%, Tiongkok 9,7%, Hong Kong 8,8%, dan India sebesar 3,34%.
“Dari tahun ke tahun, jumlah penderita hepatitis B di Indonesia terus meningkat,” ujar dr Unggul Budihusodo SpPD KGEH, ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) di Jakarta, kemarin.
Unggul mengungkapkan, masalah penyakit hepatitis B tidak hanya menjadi tanggung jawab institusi kesehatan saja, namun harus pula melibatkan semua elemen masyarakat guna memberikan edukasi dan informasi mengenai bahaya hepatitis B.
Terkait dengan hal itu, PPHI akan menggelar kampanye awam tentang hepatitis B berlangsung Juli–Agustus 2008, dengan Jakarta sebagai percontohan awal.
Kampanye bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta sebagai proyek percontohan, terhadap hepatitis B, terutama bagi mereka yang termasuk kelompok berisiko tinggi. Selain itu, kampanye bertujuan untuk menyediakan informasi mengenai hepatitis B, mulai dari pencegahan, diagnosis, sampai penatalaksanaan.
Memperingati Hari Hepatitis Sedunia yang berlangsung setiap 19 Mei, Kelompok Kerja Hepatitis yang diketuai Prof Ali Sulaiman, pada 9 Juni 2008 lalu menggelar lokakarya mengenai virus hepatitis.
Sumber virus hepatitis B berasal dari darah atau cairan tubuh yang menyebar melalui kulit. Virus hepatitis B merupakan anggota kepadnaviridae yang menginfeksi sel hati 100 kali lebih infeksius dari human immunodeficiency virus (HIV), sekaligus menjadi penyebab utama timbulnya kanker hati.
Gejala klinis yang biasa terdapat pada mereka yang terinfeksi virus hepatitis B berupa kelelahan, penurunan nafsu makan, demam, diare, perubahan warna urin, serta feses. Gejala lebih banyak ditemukan pada orang dewasa ketimbang pada anak-anak.
Penyebaran virus hepatitis B melalui transmisi perinatal terjadi antara ibu pada bayi, dimana 90% bayi yang terinfeksi akan menjadi kronik. Sedangkan transmisi horisontal, yaitu antara anak ke anak, jarum yang terkontaminasi, kontak seksual, tenaga kesehatan, atau tranfusi darah.
“Sebesar 6% orang yang terinfeksi hepatitis B sekitar usia 5 tahun akan menjadi kronik,” ungkap Unggul Budihusodo yang juga menjabat ketua Subdivisi Hepatologi Departemen Penyakit Dalam RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.
Sebesar 15% hingga 40% dari seluruh penderita hepatitis B kronik, akan mengalami perburukan penyakit. Perkembangan penyakit dipicu dari faktor-faktor, seperti muatan virus, gender, umur saat infeksi, status imun penjamu, mutasi virus, status hepatitis B e antigen (HBeAG), alkohol, serta ko-infeksi HCV atau HIV.
Diagnosa hepatitis B kronik harus didukung oleh data klinis dan laboratorium, meliputi HBV deoxyribonucleic acid (HBV DNA) terdeteksi dalam serum, kenaikan enzim hati, adanya bukti histologis atau hasil USG yang menunjukkan proses inflamasi hati atau sirosis.
Sekitar 53% kejadian kanker hati berhubungan dengan hepatitis B, dimana kanker hati adalah salah satu kanker penyebab kematian nomor 3 di dunia. Penderita hepatitis B memiliki lebih dari 25 kali peningkatan risiko untuk menderita kanker hati daripada mereka yang tidak terinfeksi.
Risiko kanker hati akan meningkat seiring dengan peningkatan HBV DNA dalam serum. Virus hepatitis B merangsang timbulnya kanker hati melalui penyatuan DNA virus ke sel hait penderita, pembentukan protein virus HBx, serta meningkatkan kecepatan replika sel hati.(izn)
Salah satu penyebabnya adalah virus hepatitis B. Penyakit ini tergolong sebagai penyakit infeksi yang perlu penanganan serius karena dapat berakibat fatal bahkan kematian.

Yang beresiko tinggi diserang penyakit hepatitis B :
 Orang yang sering berhubungan sexual dengan berganti-ganti pasangan
 Orang yang sering menggunakan jarum suntik secara bergantian atau bersama sama dengan orang lain.
 Pekerja dibidang kesehatan yang mungkin terpapar oleh darah yang terinfeksi atau terluka akibat tusukan jarum yang tidak disengaja.
 Orang yang menerima tranfusi darah yang telah tercemar virus hepatitis B. Tetapi kemungkinan itu sangat kecil karena rumah sakit telah melakukan pemeriksaan darah transfusi untuk mengetahui kemungkinan adanya virus hepatitis B. Bila darah tersebut telah terinfeksi maka tidak akan digunakan.
 Setelah terinfeksi dengan hepatitis B, infeksi yang timbul tidak tentu ; anda mungkin terinfeksi atau tidak. Mungkin saja gejala-gejalanya akan muncul dan sembuh, atau bahkan mungkin tanpa gejala tetapi nanti akan timbul gejala yang mengganggu fungsi hati anda.
Dalam beberapa kasus, penyakit ini bisa menyebabkan anda berada dalam tahap penularan untuk jangka waktu lama. Jika hal ini sampai terjadi maka hepatitis B akan mengganggu anda selama hayat, baik kesehatan anda maupun orang-orang disekitar anda. Dan bahkan jika anda tidak terinfeksi setelah terpapar dengan benda-benda yang bisa menularkan hepatitis, anda masih berisiko tinggi untuk menderita penyakit ini.

Virus Poten
Sejauh ini virus hepatitis B lebih menular daripada AIDS. Risiko terbesar hepatitis B ditularkan melalui jarum suntik (risikonya 30 x lebih besar) dan dapat bertahan hidup diluar tubuh manusia. Virus AIDS dan hepatitis B dapat ditemukan di dalam darah, namun virus hepatitis B lebih terkonsentrasi dalam darah daripada AIDS.
Penularan
Hepatitis B menular melalui darah atau cairan tubuh lainnya yang mengandung darah. Di rumah sakit, penyakit ini bisa ditularkan lewat jarum suntik atau alat lainnya, melalui luka yang terbuka atau luka lecet di kulit, atau tumpahan cairan tubuh lainnya ke kulit.

Infeksi dengan Gejala
Gejala ynag ditimbulkan sangat bervariasi seperti influensa (demam, otot dan sendi terasa ngilu, menurunnya napsu makan, merasa lelah) dan muntah dalam waktu yang cukup lama, kadang disertai warna kekuningan pada kulit dan retina. Gejala-gejala itu bisa timbul dalam waktu beberapa minggu hingga bulan sejak anda terpapar benda yang menular. Dan yang perlu diperhatikan, penyakit ini bisa sangat menular sebelum gejala-gejalanya timbul.
Infeksi tanpa Gejala
Banyak orang yang terinfeksi hepatitis B namun tidak menampakan satu gejalapun, mereka bisa menularkan penyakit ini kepada orang lain. Mereka juga bisa mengalami masalah kesehatan seperti sirosis atau kanker hati, bahkan gagal fungsi hati.
Vaksin : Penumbuh Kekebalan
Vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau "liar". Berasal dari kata vaccinia, penyebab infeksi cacar sapi yang ketika diberikan kepada manusia, akan menimbulkan pengaruh kekebalan terhadap cacar.
Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit. Vaksin dapat juga berupa organisme mati atau hasil-hasil pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus, dsb.).

Imunisasi yang Menumbuhkan Kekebalan
Pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu disebut Vaksinasi. Disebut juga Imunisasi karena vaksin akan mempersiapkan sistem kekebalan manusia atau hewan untuk bertahan terhadap serangan patogen tertentu, terutama bakteri, virus, atau toksin. Sistem kekebalan mengenali partikel vaksin sebagai agen asing, menghancurkannya, dan "mengingat"-nya. Ketika di kemudian hari agen yang virulen menginfeksi tubuh, sistem kekebalan telah siap:
1. Menetralkan bahannya sebelum bisa memasuki sel; dan
2. Mengenali dan menghancurkan sel yang telah terinfeksi sebelum agen ini dapat berbiak.
Imunisasi dibedakan dalam dua jenis, imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Pada imunisasi aktif, tubuh ikut berperan dalam membentuk kekebalan (imunitas). Tubuh seseorang dirangsang untuk membangun pertahanan imunologis terhadap kontak alamiah dengan berbagai penyakit. Sedangkan dalam imunisasi pasif, tubuh tidak dengan sendirinya membentuk kekebalan, tetapi diberikan dalam bentuk antibodi dari luar.
Seseorang yang mempunyai risiko terjangkit penyakit tertentu, diberi antibodi yang spesifik. Umumnya bayi dan anak diberi imunisasi aktif karena imunisasi jenis ini memberi kekebalan yang lebih lama. Sedangkan imunisasi pasif hanya diberikan dalam keadaan sangat mendesak, yakni jika tubuh anak diduga belum mempunyai kekebalan ketika terinfeksi oleh kuman penyakit ganas, seperti tetanus.
Tapi tak jarang pula imunisasi aktif dan pasif diberikan dalam waktu bersamaan. Misalnya, seorang anak yang terserang penyakit tertentu akan memperoleh imunisasi pasif untuk segera menetralisir racun kuman yang beredar. Sedangkan imunisasi aktif diberikan juga untuk mendapatkan kekebalan setelah sembuh dari penyakit tersebut.
Kedua jenis imunisasi tersebut juga berbeda dalam segi bahan bakunya. Dalam imunisasi aktif, tubuh diberi sebagian atau seluruh komponen kuman atau suatu bentuk rekayasa kuman sehingga terjadi rangsangan kekebalan tubuh (imunologik) yang menyerupai respon terhadap infeksi alamiah oleh kuman itu. Sedangkan respon dalam tubuh itu sendiri bisa berupa terbentuknya antitoksin (zat anti terhadap racun yang dibuat oleh mikroorganisme) atau bentuk lain yang efeknya menetralisir kuman. Sementara dalam imunisasi pasif, tubuh diberi antibodi spesifik (sudah siap pakai) yang dapat habis dalam tubuhnya.
Beberapa imunisasi dapat membentuk kekebalan tubuh seumur hidup, seperti campak. Namun ada pula bentuk imunisasi yang memberikan kekebalan tubuh dalam jangka waktu tertentu. Misalnya saja, DPT (difteri, pertusis, tetanus) dan polio.
Efektivitas suatu imunisasi aktif dapat diukur dengan memeriksa adanya proteksi terhadap suatu penyakit yang dituju. Pemeriksaan imunoglobin sering dipakai untuk pembuktian terjadinya proteksi terhadap penyakit tertentu. Tetapi bukan merupakan jaminan mutlak, karena pada keadaan tertentu kadar imunoglobin tidak dapat digunakan sebagai patokan terjadinya proteksi.
Pada dasarnya ada vaksin yang dibuat dari kuman yang dilemahkan atau dimatikan. Kuman yang dimatikan ini tidak dapat berkembang biak (replikasi) dalam tubuh manusia, sehingga untuk merangsang pembentukan antibodi diperlukan dalam jumlah banyak. Selain itu, secara berkala dibutuhkan juga pemberian vaksin ulangan untuk memperkuat antibodi.

Jenis-Jenis Imunisasi
Biasanya imunisasi bisa diberikan dengan cara disuntikkan maupun diteteskan pada mulut anak balita (bawah lima tahun). Berikut ini adalah Jenis-jenis imunisasi pada balita :
a. Imunisasi BCG
Vaksinasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). BCG diberikan 1 kali sebelum anak berumur 2 bulan. Vaksin ini mengandung bakteri Bacillus Calmette-Guerrin hidup yang dilemahkan, sebanyak 50.000-1.000.000 partikel/dosis. Imunisasi BCG dilakukan sekali pada bayi usia 0-11 bulan, lalu DPT diberikan tiga kali pada bayi usia 2-11 bulan dengan interval minimal empat minggu. Imunisasi polio diberikan empat kali pada bayi 0-11 bulan dengan interval minimal empat minggu. Sedangkan campak diberikan satu kali pada bayi usai 9-11 bulan. Terakhir, imunisasi hepatitis B harus diberikan tiga kali pada bayi usia 1-11 bulan, dengan interval minimal empat minggu.

b. Imunisasi DPT
Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Pertusis (batuk rejan) adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak. Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang

c. Imunisasi DT
Imunisasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasilkan oleh kuman penyebab difteri dan tetanus. Vaksin DT dibuat untuk keperluan khusus, misalnya pada anak yang tidak boleh atau tidak perlu menerima imunisasi pertusis, tetapi masih perlu menerima imunisasi difteri dan tetanus. Setiap orang dewasa harus mendapat vaksinasi lengkap tiga dosis seri primer dari difteri dan toksoid tetanus, dengan dua dosis diberikan paling tidak berjarak empat minggu, dan dosis ketiga diberikan enam hingga 12 bulan setelah dosis kedua. Jika orang dewasa belum pernah mendapat imunisasi tetanus dan difteri maka diberikan seri primer diikuti dosis penguat setiap 10 tahun.
d. Imunisasi TT
Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus. Jenis imunisasi ini minimal dilakukan lima kali seumur hidup untuk mendapatkan kekebalan penuh. Imunisasi TT yang pertama bisa dilakukan kapan saja, misalnya sewaktu remaja. Lalu TT2 dilakukan sebulan setelah TT1 (dengan perlindungan tiga tahun). Tahap berikutnya adalah TT3, dilakukan enam bulan setelah TT2 (perlindungan enam tahun), kemudian TT4 diberikan satu tahun setelah TT3 (perlindungan 10 tahun), dan TT5 diberikan setahun setelah TT4 (perlindungan 25 tahun).
e. Imunisasi Campak
Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak (tampek). Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis pada saat anak berumur 9 bulan atau lebih.

f. Imunisasi MMR
Imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak, gondongan dan campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali. Campak menyebabkan demam, ruam kulit, batuk, hidung meler dan mata berair. Campak juga menyebabkan infeksi telinga dan pneumonia. Campak juga bisa menyebabkan masalah yang lebih serius, seperti pembengkakan otak dan bahkan kematian. Gondongan menyebabkan demam, sakit kepala dan pembengkakan pada salah satu maupun kedua kelenjar liur utama yang disertai nyeri. Gondongan bisa menyebabkan meningitis (infeksi pada selaput otak dan korda spinalis) dan pembengkakan otak. Kadang gondongan juga menyebabkan pembengkakan pada buah zakar sehingga terjadi kemandulan. Campak Jerman (rubella) menyebabkan demam ringan, ruam kulit dan pembengkakan kelenjar getah bening leher. Rubella juga bisa menyebabkan pembengkakan otak atau gangguan perdarahan.

g. Imunisasi Hib
Imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh Haemophilus influenza tipe b. Organisme ini bisa menyebabkan meningitis, pneumonia dan infeksi tenggorokan berat yang bisa menyebabkan anak tersedak. Sampai saat ini, imunisasi HiB belum tergolong imunisasi wajib, mengingat harganya yang cukup mahal. Tetapi dari segi manfaat, imunisasi ini cukup penting. Hemophilus influenzae merupakan penyebab terjadinya radang selaput otak (meningitis), terutama pada bayi dan anak usia muda. Penyakit ini sangat berbahaya karena seringkali meninggalkan gejala sisa yang cukup serius. Misalnya kelumpuhan. Ada 2 jenis vaksin yang beredar di Indonesia, yaitu Act Hib dan Pedvax.
h. Imunisasi Varisella
Imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air. Cacar air ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan, kemudian secara perlahan mengering dan membentuk keropeng yang akan mengelupas.
i. Imunisasi HBV
Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B. Hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian. Karena itu imunisasi hepatitis B termasuk yang wajib diberikan. Jadwal pemberian imunisasi ini sangat fleksibel, tergantung kesepakatan dokter dan orangtua. Bayi yang baru lahir pun bisa memperolehnya. Imunisasi ini pun biasanya diulang sesuai petunjuk dokter. Orang dewasa yang berisiko tinggi terinfeksi hepatitis B adalah individu yang dalam pekerjaannya kerap terpapar darah atau produk darah, klien dan staf dari institusi pendidikan orang cacat, pasien hemodialisis (cuci darah), orang yang berencana pergi atau tinggal di suatu tempat di mana infeksi hepatitis B sering dijumpai, pengguna obat suntik, homoseksual/biseksual aktif, heteroseksual aktif dengan pasangan berganti-ganti atau baru terkena penyakit menular seksual, fasilitas penampungan korban narkoba, imigran atau pengungsi di mana endemisitas daerah asal sangat tinggi/lumayan. Berikan tiga dosis dengan jadwal 0, 1, dan 6 bulan. Bila setelah imunisasi terdapat respon yang baik maka tidak perlu dilakukan pemberian imunisasi penguat (booster).
j. Imunisasi Pneumokokus Konjugata
Imunisasi pneumokokus konjugata melindungi anak terhadap sejenis bakteri yang sering menyebabkan infeksi telinga. Bakteri ini juga dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius, seperti meningitis dan bakteremia (infeksi darah).

k. Tipa
Imunisasi tipa diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap demam tifoid (tifus atau paratifus). Kekebalan yang didapat bisa bertahan selama 3 sampai 5 tahun. Oleh karena itu perlu diulang kembali. Imunisasi ini dapat diberikan dalam 2 jenis: imunisasi oral berupa kapsul yang diberikan selang sehari selama 3 kali. Biasanya untuk anak yang sudah dapat menelan kapsul. Sedangkan bentuk suntikan diberikan satu kali. Pada imunisasi ini tidak terdapat efek samping.
l. Hepatitis A
Penyakit ini sebenarnya tidak berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya. Tetapi bila terkena penyakit ini penyembuhannya memerlukan waktu yang lama, yaitu sekitar 1 sampai 2 bulan. Jadwal pemberian yang dianjurkan tak berbeda dengan imunisasi hepatitis B. Vaksin hepatitis A diberikan dua dosis dengan jarak enam hingga 12 bulan pada orang yang berisiko terinfeksi virus ini, seperti penyaji makanan (food handlers), mereka yang sering melakukan perjalanan atau bekerja di suatu negara yang mempunyai prevalensi tinggi hepatitis A, homoseksual, pengguna narkoba, penderita penyakit hati, individu yang bekerja dengan hewan primata terinfeksi hepatitis A atau peneliti virus hepatitis A, dan penderita dengan gangguan faktor pembekuan darah.

Kondisi yang Bukan Halangan untuk Melakukan Imunisasi:
Gangguan saluran napas atas atau gangguan salurancerna ringan
• Riwayat efek samping imunisasi dalam keluarga.
• Riwayat kejang dalam keluarga.
• Riwayat kejang demam
• Riwayat penyakit infeksi terdahulu
• Kontak dengan penderita suatu penyakit infeksi
• Kelainan saraf menetap seperti palsi serebralsindrom Down
• Eksim dan kelainan lokal di kulit
• Penyakit kronis (jantung, paru, penyakit metabolik)
• Terapi antibiotika; terapi steroid topikal (terapi lokal, kulit, mata)
• Riwayat kuning pada masa neonatus atau beberapa hari setelah lahir
• Berat lahir rendah
• Ibu si anak sedang hamil
• Usia anak melebihi usia rekomendasi imunisasi
Kondisi Dimana Imunisasi Tidak Dapat Diberikan atau Imunisasi Boleh Ditunda:
• Sakit berat dan akut; Demam tinggi;
• Reaksi alergi yang berat atau reaksi anafilaktik;
• Bila anak menderita gangguan sistem imun berat (sedang menjalani terapi steroid jangka lama, HIV) tidak boleh diberi vaksin hidup (Polio Oral, MMR, BCG, Cacar Air).
• Alergi terhadap telur, hindari imunisasi influenza

Jadwal Imunisasi

Berikut ini adalah jadwal imunisasi anak rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Periode 2004 (revisi September 2003):




Keterangan jadwal imnisasi rekomendasi IDAI :
1. Saat Lahir - Hepatitis B-1 HB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada umur 1 dan 6 bulan. Apabila status HbsAg-B ibu positif, dalam waktu 12 jam setelah lahir diberikan HBlg 0,5 ml bersamaan dengan vaksin HB-1. Apabila semula status HbsAg ibu tidak diketahui dan ternyata dalam perjalanan selanjutnya diketahui bahwa ibu HbsAg positif maka masih dapat diberikan HBlg 0,5 ml sebelum bayi berumur 7 hari. Polio-0 Polio-0 diberikan saat kunjungan pertama. Untuk bayi yang lahir di RB/RS polio oral diberikan saat bayi dipulangkan (untuk menghindari transmisi virus vaksin kepada bayi lain)
2. 1 Bulan - Hepatitis B-2 Hb-2 diberikan pada umur 1 bulan, interval HB-1 dan HB-2 adalah 1 bulan.
3. 0-2 Bulan - BCG BCG dapat diberikan sejak lahir. Apabila BCG akan diberikan pada umur > 3 bulan sebaiknya dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu dan BCG diberikan apabila uji tuberkulin negatif.
4. 2 Bulan - DTP-1 DTP-1 diberikan pada umur lebih dari 6 minggu, dapat dipergunakan DTwp atau DTap. DTP-1 diberikan secara kombinasi dengan Hib-1 (PRP-T). Hib-1 Hib-1 diberikan mulai umur 2 bulan dengan interval 2 bulan. Hib-1 dapat diberikan secara terpisah atau dikombinasikan dengan DTP-1. Polio-1 Polio-1 dapat diberikan bersamaan dengan DTP-1
5. 4 Bulan - DTP-2 DTP-2 (DTwp atau DTap) dapat diberikan secara terpisah atau dikombinasikan dengan Hib-2 (PRP-T). Hib-2 Hib-2 dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan dengan DTP-2. Polio-2 Polio-2 diberikan bersamaan dengan DTP-2
6. 6 Bulan - DTP-3 DTP-3 dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan dengan Hib-3 (PRP-T). Hib-3 Apabila mempergunakan Hib-OMP, Hib-3 pada umur 6 bulan tidak perlu diberikan. Polio-3 Polio-3 diberikan bersamaan dengan DTP-3. Hepatitis B-3 HB-3 diberikan umur 6 bulan. Untuk mendapatkan respons imun optimal, interval HB-2 dan HB-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan.
7. 9 Bulan - Campak-1 Campak-1 diberikan pada umur 9 bulan, campak-2 merupakan program BIAS pada SD kelas 1, umur 6 tahun. Apabila telah mendapatkan MMR pada umur 15 bulan, campak-2 tidak perlu diberikan.
8. 15-18 Bulan - MMR Apabila sampai umur 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak, MMR dapat diberikan pada umur 12 bulan. Hib-4 Hib-4 diberikan pada 15 bulan (PRP-T atau PRP-OMP).
9. 18 Bulan - DTP-4 DTP-4 (DTwp atau DTap) diberikan 1 tahun setelah DTP-3. Polio-4 Polio-4 diberikan bersamaan dengan DTP-4.
10. 2 Tahun - Hepatitis A Vaksin HepA direkomendasikan pada umur > 2 tahun, diberikan dua kali dengan interval 6-12 bulan.
11. 2-3 Tahun - Tifoid Vaksin tifoid polisakarida injeksi direkomendasikan untuk umur > 2 tahun. Imunisasi tifoid polisakarida injeksi perlu diulang setiap 3 tahun.
12. 5 Tahun - DTP-5 DTP-5 diberikan pada umur 5 tahun (DTwp/DTap). Polio-5 Polio-5 diberikan bersamaan dengan DTP-5.
13. 6 Tahun - MMR Diberikan untuk catch-up immunization pada anak yang belum mendapatkan MMR-1.
14. 10 Tahun - DT/TT Menjelang pubertas, vaksin tetanus ke-5 (dT atau TT) diberikan untuk mendapatkan imunitas selama 25 tahun. Varisela Vaksin varisela diberikan pada umur 10 tahun
DAYA TAHAN TUBUH
Daya tahan tubuh merupakan kemampuan fisik, yang berfungsi untuk membentengi tubuh dari masuknya kuman. Oleh karena itu penting sekali bagi kita untuk tetap menjaga daya tahan tubuh yang kita miliki. Jika daya tahan tubuh yang kita miliki baik, maka tubuh akan sehat. Sebaliknya, jika daya tahan tubuh menurun, maka kuman akan mudah masuk ke dalam tubuh, dan tubuh akan lebih mudah terjangkit penyakit.
Oleh karena itu, penting sekali menjaga daya tahan tubuh agar tetap baik. Beberapa cara di antaranya adalah :
1. Perhatikan gizi makanan
Salah satu cara untuk menjaga daya tahan tubuh agar selalu baik, adalah makan makanan yang bergizi. Makanan bergizi adalah makanan yang mengandung 4 sehat 5 sempurna, yang mengandung unsur-unsur (karbohidrat, lemak, protein, mineral, dan lainnya) yang dibutuhkan oleh tubuh.
2. Istirahat yang cukup
Kurang istirahat dapat mengakibatkan penurunan terhadap daya tahan tubuh. Untuk itu kebutuhan tidur harus dapat dipenuhi dengan baik. Normalnya, kebutuhan tidur orang dalam sehari dapat tercukupi jika ia telah beristirahat selama kurang lebih 8 jam.

3. Olahraga yang teratur
Tidak perlu berolahraga terlalu berat dan berlebihan. Asalkan dilakukan secara teratur, hasil yang didapat akan lebih baik. Jenis olahlaga dapat dipilih sesuai kemampuan tubuh masing-masing, misalnya senam, lari, berenang, tenis, dan lainnya. Idealnya olahraga yang baik dilakukan secara teratur 3 kali dalam seminggu.
4. Stres berlebih
Stres membuat seseorang tidak semangat dalam melakukan berbagai aktivitas., mudah emosi, sulit tidur, dan nafsu makan menurun. Jika tetap dibiarkan, maka akan mengganggu kesehatan tubuh. Tanggulangi sesegera mungkin
5. Konsumsi vitamin
Vitamin dapat membantu memenuhi kebutuhan tubuh. Pilihlah vitamin yang benar-benar telah teruji dan aman untuk dikonsumsi

Tidak ada komentar: